Kamis, 11 Mei 2017

esai

Membaca Indonesia
(Rendahnya Budaya Membaca)
Oleh: Agus Yulianto
Pengajar dan Aktivis Literasi

Indeks membaca masyarakat Indonesia menurut UNESCO sungguh sangat miris sekali. Minat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dalam setiap masyarakat hanya ada satu masyarakat yang gemar membaca. Perlu kita ketahui, budaya membaca masyarakat Indonesia sangat tertinggal jauh sekali dengan Negara lain. Dari 61 negara, Indonesia menempati urutan ke 60.  Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membaca dan menulis sangat rendah sekali. Di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia menempati peringkat ketiga paling bawah dibandingkan dengan Negara Laos dan Kamboja.  Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Perlu kita ketahui, untuk ukuran Negara maju rata-rata indeks membaca berkisar antara 0,45 sampai 0,62. Kondisi ini tentunya menempatkan Indonesia pada posisi 124 sampai 187 negara dalam penilaian Indeks  Pembangunan Manusia (IPM).
Lebih gemar sosmed
            Rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia ini menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia menurun.  Menurut hasil beberapa penelitian factor yang menyebabkan rendahnya budaya membaca yakni masyarakat Indonesia gemar bermedia social. Seperti berselancar di dunia maya; facebook, twetter, line, whatshaap, BBM, dan sejenis medsos lainnya. Selain itu, juga hobi menonton televise daripada membaca buku.
            Jika kondisi ini masih terus berlangsung dan tidak kita antisipasi sejak dini. Hal ini mengkhawatirkan akan mempengaruhi kualitas dan mutu sumber daya manusia di Negara kita. Lalu, apa yang harus kita lakukan?
            Kegiatan membaca  kalau tidak dimulai dari diri sendiri (kesadaran) sungguh mustahil sekali untuk menjadikannya sebagai rutinitas kita sehari-hari. Hal ini perlu yang namanya membiasakan diri untuk membaca sebuah buku walau hanya 5-10 menit setiap hari atau 1-2 lembar setiap harinya. Kalau kita berkomitmen dengan diri sendiri untuk meluangkan waktu membaca buku akan menjadi kebiasaan kita sehari-hari.
            Selain itu, pemerintah harus pro aktif menyadarkan masyarakat akan pentingnya membaca sebuah buku. Keseriusan pemerintah dalam mengajak masyarakat mutlak dibutuhkan. Sebab, kondisi yang sudah mengakar dan membudaya rendahnya minat baca ini harus segera diperbaiki.  Dengan menyediakan sarana dan prasarana dan memperbanyak taman baca masyarakat (TBM) di daerah bisa jadi merupakan salah satu langkah untuk menumbuhkan minat membaca masyarakat.
            Pemerintah juga harus mendorong peningkatan jumlah produksi buku yang bermutu dan berkualitas. Saat ini jumlah produksi buku di Indonesia terbilang sangat rendah. Setiap tahun hanya 7.000-8.000 judul buku yang diterbitkan. Tentunya saja ini sangat jauh sekali dengan Negara tetangga Malasyia yang setiap tahunnya bisa menerbitkan hingga 10.000 buku. Angka itu akan semakin memprihatinkan bila dibandingkan dengan Negara Jepang yang setiap tahunnya dapat menerbitkan 44.000 judul buku, Inggris 61.000 judul buku, dan Amerika Serikat 100.000 judul buku setiap tahunnya. Artinya, jumlah satu buku dibaca oleh tujuh orang Indonesia. Jumlah ketersediaan buku bacaan yang ada, belum mampu memenuhi kebutuhan dasar secara umum masyarakat Indonesia untuk gemar membaca. 
Selain itu, perlu kita perhatikan kualitas buku yang diterbitkan. Banyak sekali di masyarakat saat ini beredar buku-buku yang tidak bekualitas. Semisal, beberapa waktu lalu sering terjadi penarikan buku-buku yang berisi tentang suatu aktivitas yang menyimpang (cinta sesama jenis, kekerasan,dll) tentunya saja hal ini melukai dunia perbukuan kita. Oleh karena itu, pemerintah harus turut serta mengawal peredaran buku di masyarakat.  
Bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat Indonesia bila budaya baca saja rendah? Bagaimana buku bisa tersedia di perpustakaan bila produksi buku masih rendah? Kita pantas mengelus dada menyaksikan fenomena ini. Kondisi ini tentu saja bertolak belakang dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 , yakni ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar