Kamis, 20 September 2012

Cerpen



Air Mata Cinta Ibu


Sore ini terlihat langit mendung kelabu , pasti sebentar lagi akan turun hujan. Bulan januari merupakan bulan yang selalu disertai hujan. Tidak salah kalau selama ini orang bilang januari bulan hujan sehari-hari. Meskipun hujan pasti akan membawa berkah untuk kita semua. Gerimis pun berjatuhan dan hujan deras pun mengguyur tanah yang gersang ini.
Hujan turun sangat lebat, aku pun sulit untuk memperkirakan kapan reda. Aku mendekap tas hitam bututku erat-erat. Di halte bus way aku berlindung dari derasnya air hujan yang penuh sesak dengan orang-orang yang baru pulang dari kerja, kuliah maupun sekolah. Kalau hujan terus lebat seperti ini, kapan aku bisa sampai ke rumah, padahal rumahku tidak jauh dari halte bus.
Hujan semakin lebat. Angin semakin kencang dan petir menjilat-jilat langit. Aku pun sempat kepikiran bagaimana kondisi ibuku yang sedang sakit di rumah sendirian. Satu jam lebih aku menanti hujan reda. Alhamdulillah hujan pun  akhirnya mereda. Aku melangkah keluar dari halte, berjalan di atas aspal yang basah dan berkecipak air. Aku pun mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah. Pikiranku yang tidak tenang rasa khawatir berkecamuk di dalam diri. Aku rasa kali ini ibu ku kesal karena terlalu lama menungguku. Karna aku membawa obat yang sangat di butuhkan untuk kesembuhan ibuku.
Akhirnya aku sampai juga di rumah yang kecil bercat hijau muda. Ku pandangi di sekitar halaman rumah begitu banyak sampah yang berdatangan di halaman. Aku hanya bisa menghembuskan nafas dalam-dalam. Kapan sampah-sampah ini berhenti berteduh di halamanku. Di daerahku merupakan daerah yang rawan banjir. Ketika musim hujan warga kami harus siap-siap untuk kerja bakti setiap paginya. Karna begitu banyak jenis sampah mulai dari mainan anak-anak yang rusak sampai runtuhan kayu-kayusemua mampir ke halaman rumah warga. Aku hanya bisa sabar menunggu peran pak walikota agar segera mengatasi musibah banjir ini. Sejak dulu banjir di daerah kami belum teratasi.
Aku membuka pintu rumahku. Dan terlihat pemandangan pantai buatan yang indah di dalam rumah. Begitu banyak genangan air di lantai berhiaskan perahu-perahu panci dimana-mana. Aku pun tak pedulikan hal itu karna sudah biasa. Aku langsung menuju kamar ibu. Terlihat ibu yang terbaring lemah dan rapuh. Ibuku menggeliat, lalu membuka mata sayunya perlahan, menatapku dengan mata yang masih kantuk. Aku pun tersenyum sambil membelai rambut ibu .
“ Assalamu’alaikum, Ibu” sapaku lembut, ibu memandang wajahku sejenak lalu membalas salam “ Waalaikum salam “
“ Aku Agus, anak ibu.” Kataku mengawali. Aku sambil menyodorkan obat yang baru saja aku beli dari sebuah apotik ternama di kota Solo. Sudah dua bulan ini ibu sakit rawat jalan, aku tak tahu lagi harus berbuat apa agar penyakit ibu ini segera sembuh. Selama ini ibu menderita migrain. Ketika migrainnya kambuh, rasanya seperti di tusuk-tusuk, sakitnya minta ampun.Migrain itu adalah nyeri kepala sebelah. Penyebabnya bisa banyak hal, yaitu ketegangan otot di daerah leher, terjadinya aliran darah pada bagian otak. Bila migrain sering terjadi pada daerah tertentu, perlu di curigai adanya kemungkinan gangguan lain seperti tumor atau gangguan pembuluh darah di daerah tersebut. Penjelasan dari dokter yang masih aku ingat sampai sekarang.Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyembuhkan penyakit ibuku ini. Karna sakitnya ini sudah tiga tahunan belum sembuh juga. Rasa khawatir pun menyelimuti diriku. Para tetangga pun memperbincagkan sakit ibuku, ada yang bilang di guna-guna bahkan di santet. Aku hanya bisa bersabar menghadapi ini semua. Rasa pasrahku hanya ku serahkan pada Allah swt.
            “ Agus , peluk Ibu...” Pinta ibu. Akupun memeluknya erat, merasakan kehangatan pelukan ibu walau dengan mata berkaca-kaca.
            “ Sakit...sakit....” lirih ibu yang membuat aku tersentak.
            “ Mana yang sakit Bu...” Ibu hanya diam, sambil menjambak –jambak rambutnya sambil menangis.
            Jam menunjukkan angka 21.00, aku membawa ibuku yang sedari tadi menangis kesakitan kerumah sakit bersama beberapa tetanggaku. Aku duduk gelisah, sambil memandang ibu yang sedang di opname. Beberapa menit kemudian ibu ku tak sadarkan diri, dokter pun merawatnya dengan sangat intensif. Segala peralatan dokter pun di kerahkan untuk menyadarkan ibu. Ku perhatikan dengan seksama ibu masih tertidur. Wajahnya semakin pucat. Matanya cekung dan raut wajahnya menyiratkan sakit yang amat sangat. Air mata sucinya pun menetes. Aku hanya bisa berdoa kepadaNya. Saat ku pegang tanganya terasa dingin. Aku perhatikan denyut nadinya tak ada detakan sama sekali. Ibuku pun terpejam matanya dengan wajah yang tenang, damai dan senyum. Aku hanya bisa berserah diri kepadaNya. Hanya kekuatan iman yang aku punya untuk menerima kenyataan ini. Bahwa ibuku telah pergi ke surga dengan air mata yang penuh cinta. Selamat jalan Ibu....Aku akan slalu mendoakanmu. Ucapku dalam hati.
***
            Kini aku sendiri melewati hari-hari di rumah yang kian sunyi. Semenjak kepergian ibu terasa hari-hariku sepi. Sudah tidak ada lagi yang memasakkan sayur asam untukku. Dan sudah tidak terdengar lagi suara omelan ibu yang slalu tertuju padaku karna malasnya diri ini. kenangan-kenangan terindah bersama ibu tak kan pernah aku lupakan meskipun dia bukanlah ibu kandungku. Aku bersyukur karna ada wanita sebaik beliau yang mau merawat anak dari hasil perzinahan yang tidak jelas asal usulnya. Ketika ibu bercerita tentang sejatinya diriku sempat rasa tidak percaya bahwa aku anak titipan dari seorang wanita yang menjajakan dirinya untuk kepuasan nafsu laki-laki. Ketika aku mengingat itu semua  tak dapat aku tahan air mata yang sayu ini. Sungguh malang nasibku. “ Ya Allah...kini semua telah kau ambil dari kehidupanku. Hidup tanpa sanak saudara....hidup sebatang kara. Tak tau kemana aku harus berlabuh. Kemana aku harus singgah berteduh dari kejamnya hidup ini. Ya Allah tak kan pernah lelah diri ini untuk slalu mengadu kepadaMu. Meskipun darah yang menjalar di dalam diri ini darah yang pahit. Tapi aku akan slalu tetap bersyukur kepadaMu. Karna Kau tlah menyelamatkan diriku dari ketidakpastian...”
            Aku mencoba bangkit dari itu semua. Kini aku sebatang kara. Aku harus bisa menaklukkan dunia dengan kesendirian ini. Meskipun sejak kecil belum pernah ku measakan kasih sayang dari orang tua sejatiku, tapi aku hidup dengan rasa cinta dari seorang belaian ibu. Ya...Ibu Maryam. Sosok wanita yang selalu tegar dalam menjalani kehidupan meskipun penyakit telah menjalar di dalam dirinya. Yang aku ingat dari seorang ibu Maryam kerja kerasnya dan semangat hidupnya untuk melawan hidup yang keras ini. Meskipun sehari-harinya dia seorang pembantu rumah tangga , sifat cinta kasih dan tolong menolong kepada sesama tidak lepas dari dirinya. Kita  termasuk orang kategori ekonomi kebawah. Makan sehari hari pun kadang kita bela-belain untuk menjual jambu air yang tak mesti panennya.
            Itulah kisah hidupku dengan seorang ibu yang begitu luar biasa kasih sayangnya. Proses hidup yang aku jalani ini tidak pernah aku sangka kenapa bisa seperti ini. Andaikan waktu yang singkat ini dapat ku putar kembali ku ingin mengembalikan kerapuhan yang ada di dalam diri ini. Ingin ku sulam kembali luka-luka yang tersayat yang dulu tergores oleh seorang ibu yang tidak sayang akan kehadiranku. Dan akan ku taburi benih-benih cinta untuk ibu Maryam, yang selama ini justru memberikan cinta tulusnya untukku. Meskipun aku bukanlah darah dagingnya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar