Jumat, 22 Mei 2015

Opini



Menggali Sifat Empati Anak

                Memahami keadaan orang lain sangatlah di perlukan  dalam kehidupan era saat ini. Hal ini dikarenakan, memahami kondisi orang lain akan mempertajam kecerdasan sosial seseorang, salah satunya kecerdasan sosial anak kita. Seringkali kita melihat anak-anak memiliki sikap cuek, egois dan tidak peduli pada lingkungan sekitar hal ini sungguh sangat miris sekali.  Lalu bagaimana sikap kita sebagai seorang guru dan orang tua dalam menanamkan sikap empati ini kepada anak-anak kita mulai sejak dini?
            Sebagai seorang pendidik perlu menyadari betapa pentingnya sebuah pendidikan sosial anak dimulai sejak dini. Hal ini merupakan sebuah tanggung jawab dalam rangka menyiapkan generasi yang berkualitas dan cerdas secara sosial. Menurut Abdullah Nashih ‘Ulwan (2012:289) yang dimaksud dengan pendidikan sosial yaitu bagaimana mengajari anak semenjak kecilnya untuk berpegang pada etika sosial yang utama dan dasar-dasar kejiwaan yang mulia, bersumber dari akidah Islam yang abadi dan perasaan keimanan yang tulus. Oleh karena itu, hal ini merupakan tanggung jawab terpenting dalam rangka meyiapkan generasi bagi pendidik dan orang tua agar dalam memberikan pendidikan tidak hanya sekedar mengutamakan ranah kognitif saja. Akan tetapi, jiwa sosial dalam diri seorang anak perlu di gali sejak dini. Sehingga anak akan terhindar dari sikap cuek, egois dan individualistik.
Pentingnya Pendidikan Sosial Anak.
            Ada sebuah pertanyaan mendasar yang sering sekali menjadi penyulut konflik. Misal,  Mengapa ada orang tua ketika merayakan syukuran anaknya dengan anak-anak panti asuhan? Mengapa ada orang tua yang sesekali mengajak anak-anaknya melongok anak jalanan seusianya yang tinggal di bawah kolong jembatan? Hal ini kenapa perlu dilakukan oleh pihak orang tua atau guru sekalipun. Dalam Prophetic Parenting ( Muh. Nur Abdul Hafizh, 2009: 380), Dalam membentuk jiwa sosial kemasyarakatan anak maka perlu adanya sebuah interaksi anak dengan masyarakat di sekitarnya, baik dengan orang dewasa maupun dengan anak-anak lain yang sebaya, agar ia dapat bersikap aktif yang positif, jauh dari malu dan sungkan yang tercela.  Sehingga anak-anak dapat melihat potret kehidupan orang lain, serta belajar untuk peduli dan memahami bahwa masih ada anak-anak yang tidak seberuntung dirinya. Pada akhirnya hal tersebut akan memunculkan sikap dan perasaan empati di dalam diri seorang anak.Ketika jiwa empati muncul, hati pun akan tergerak untuk cepat membantu.
Sikap empati ini sangat penting berada didalam diri seorang anak. Dalam pandangan seorang psikolog, Stephen Montana, Direktur Pelayanan Klinis di Saint Luke Institute New Hampshire USA mengatakan pola asuh empati (Parental Empahty) sangat penting dalam perkembangan psikologi seorang anak. Jika seorang anak kekurangan sikap empati maka akan berakibat pada kepribadian anak, sikap depresi, dan sikap akan menyakiti diri sendiri. Karena pada dasarnya setiap manusia dibekali sikap welas asih untuk saling membantu dan menyayangi antar sesama manusia, mahkluk hidup dan lingkungannya.
            Dari sinilah Islam memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak, baik sosial maupun tingkah laku. Realitas membuktikan bahwa keselamatan masyarakat serta kekuatan bangunan dan kendalinya tergantung kepada bagaimana cara seorang pendidik dan orang tua menyiapkan generasi-generasi emas ini. Dengan demikian, tatkala mereka telah terdidik dan terbentuk, mereka akan mengarungi kehidupan dengan memberikan gambaran akan sosok manusia yang cakap, seimbang, cerdas dan bijaksana. Oleh karena itu, hendaklah para pendidik berusaha dengan keras dan penuh semangat untuk melaksanakan tanggung jawab yang besar dalam pendidikan sosial dengan cara yang benar. Jangan hanya anak disuruh belajar dan menghafal, tetapi juga di rangsang kreativitasnya untuk menemukan sesuatu. Sementara itu, target kita sebagai seorang guru hanya bertumpu pada penyampaian materi saja. Sedangkan belajar bagaimana cara memecahkan persoalan, justru terabaikan. Tidak membuka lebar komunikasi dialogis, penalaran kritis dan berekspresi, maka sistem tersebut dapat menghambat jiwa sosial anak.
Dengan demikian, perlu adanya kerjasama antara kedua belah pihak orang tua dan guru dalam memberikan sebuah pengajaran tentang kehidupan sosial. Bagaimana anak harus bersikap dan berbuat dalam segala kondisi yang akan mereka hadapi nantinya. Bagaimanapun juga anak-anaknantinya akan turut serta memberikan andil yangcukup besar dalam membina masyarakat dengan sebaik-baik pelaksanaan yang bertumpu pada nilai-nilai keimanan, akhlak, pendidikan sosial yang utama, dan nilai-nilai Islam.
Dimuat di Majalah Hadila Solopeduli edisi Mei 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar