Rabu, 18 April 2012

Catatan Hatiku


Ini Cinta Ibu, Mana Bukti Cintamu

( Kado hari Kartini, 21 April ) 
Oleh : Agus Yulianto 

 Bagai malam Matamu senantiasa menyimpan mimpi
 Bagai sebuah buku Matamu adalah sekumpulan kisah 
Dan bagai angin di pantai 
 Matamu diam-diam menyeretku dari kegamangan
 ( By : Asma Nadia ) 

        Rasa cinta tak akan tumbuh dengan indah tanpa dipelihara. Menjaga kata adalah salah satu caranya. Pilihkan kata yang tepat, santun, dan tak menyakitkan hati. Cinta akan terpelihara, rasa simpati akan terus tertanam dalam dada dan kebencian akan sirna. ( elfata, edisi 6 2008) Kecintaan seorang ibu kepada anaknya tak bisa dipungkiri oleh siapapun. Manusia manapun sedikit atau banyak tumbuh dan berkembang dalam belaian tangan lembut seorang ibu. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga,pikiran dan perasaannya untuk sang anak. Ibu rela untuk tak terpejam matanya walau kantuk menyerang dengan hebat, di saat anaknya sakit dan demam di malam hari. Ibu pun rela tetap memberi jatah makannannya untuk sang anak, meski perutnya sendiri melilit kosong kelaparan. Cinta seorang ibu adalah cinta ajaib. Walaupun sebagian ibu-ibu sekarang ada yang bertingkah laku bertentangan dengan sifat keibuannya, seperti membuang atau membunuh bayinya. Hal ini pun tetap tak menghilangkan pengakuan semua orang bahwa para ibu secara umum punya kasih saying tidak terbalas pada sang anak. Anggap saja bahwa sebagian ibu yang kejam dan kelewatan tadi hanya perkecualian. ( elfata, edisi 8 2008 ) Beberapa kutipan tulisan dari sebuah majalah semoga saja memberikan suatu harapan di dalam diri kita yaitu ‘cinta’. Ketika kita berbicara masalah cinta , mungkin kita sudah tidak asing dengan apa itu cinta. Apakah hati kita yang katanya menyimpan sebuah rasa cinta sudah kita bagikan cinta itu. Kalau sudah ? kepada siapa cinta itu kau berikan. Apa kepada pacarmu yang katanya orang yang paling kau cintai dan sayangi melebihi cinta kepada yang lain bahkan kau pun rela berkorban untuk mempertahankan cinta itu. Apa kepada dosenmu dengan harap kau berikan cinta itu hanya untuk mengharap sebuah nilai ‘A’. Atau kepada sahabatmu yang konon dialah tempat tumpuanmu untuk mencurahkan segala beban yang ada di hatimu. Silahkan saja cintamu kau berikan kepada siapa yang kau anggap paling berharga. Tapi di sini penulis hanya akan mengingatkan kemana cinta yang ada dalam hati kita. Cinta yang tulus dalam diri kita akan kita berikan. Manusia di dalam dirinya pasti ada yang namanya sebuah rasa ‘cinta’. Rasa itu di turunkan kepada manusia agar di dunia ini kehidupan antara sesame manusia penuh dengan rasa cinta. Ketika kita bertanya kepada siapa cinta ini akan kita berikan. Tentu saja cinta pertamamu itu khususkanlah hanya kepada sang khalik maha pencipta alam semesta ini. Karna Dia-lah yang menjadikan diri kita menjadi seorang manusia yang sempurna dengan segala piranti yang ada di dalam diri kita. Sehingga kita pun beda dengan mahkluk ciptaan Allah swt yang lainnya. Itulah bukti cintaNya kepada kita semua. Kita sebagai manusia hanyalah bisa berusaha untuk menjaga rasa cinta ini dengan baik. Cinta yang kedua tentunya kepada suri teladan kita. Muhammad SAW. Seorang rosull yang di dalam dirinya terpancarkan cahaya cinta kepada umatnya. Ingatkan kalian sebuah cerita ketika beliau wafaf. Apa yang dia ingat pertama kali. Apa yang dia sebuat ketika dia mau wafat. Umatku..umatku..umatku…betapa besarnya rasa cintanya kepada kita sebagai umat Muhammad saw. Ketika mau wafat dia masih ingat umatnya. Lalu. Apa bukti cinta kalian kepada Rasulullah SAW ? cinta itu bisa kau buktikan dengan selalu mengingat dia dengan mengucap shalawat untuknya. Dengan mencotoh perilaku terpuji Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari kita. Itulah salah satu bentuk wujud cinta kita . Akan tetapi ada salah satu hal yang penting tentang rasa cinta ini untuk siapa yang akan kita beri. Ibu …ketika kita mendengar kata ibu…hati ini bergetar ingin rasanya kita berada di sampingnya. Memeluk erat dia. Makan bersama dengan dia bahkan rasa ingin di suapin terniang kembali dalam ingatan kita. Ingatkah ketika kita masih kecil dulu suka merengek menangis meminta sebuah mainan dengan gerangnya kita memaksa ibu untuk membelika apa yang kita ingin. Namun ibu tetap dengan tegar dan berusaha membelika apa yang kita ingin. Ketika kita burusia 17 tahun hidup kita sudah berbeda dari yang dulu seorang anak kecil kini tumbuh kembang menjadi remaja belia. Kadang dengan teganya kita sering berkata bohong kepada ibu. Hal ini mengingatkanku pada kisah temanku dulu. Ketika sekolah kita dihadapkan dengan apa yang namanya SPP. Berapakah uang yang sering kau minta kepada ibumu untuk membayar SPP. Kadang dengan teganya meminta dua kalilipat uang SPP. Apakah penyakit seperti itu masih tertanam di dalam diri kita. Ingat sekarang kita mahasiswa. Yang didik intelektualitasnya agar di masyarakat bisa menjadi orang yang bermanfaat . Kita tentu sering mendengar kalimat bahwa surga itu di terletak di bawah telapak kaki ibu . Kalimat ini tentu tidak terasa berlebihan mengingat begitu mulia dan beratnya tugas seorang ibu. Mulai dari mengandung dengan beban yang kian hari kian berat,melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, hingga membesarkan buah hati menjadi generasi rabbani. Di sisi lain seorang ibu pun adalah seorang istri yang merupakan partner suami dalam membina rumah tangga yang sakinah. Kecintaan seorang ibu kepada seorang anak kadang mengalahkan segalanya. Sampai ia rela mengorbankan dirinya tanpa perhitungan sama sekali. Bila cinta seorang ibu kepada kita sedemikian besar, lantas bagaimana cinta kita kepada ibu? Cinta ibu memang tak berbalas namun sepantasnya kita melaksanakan perintah Allah . Dan kami perintahkan kepada manusia ( berbuat baik ) kepada kedua orang tuamu ( ibu bapakmu ) ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah , dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.( Q.S Luqman : 14 ) 
Semoga Allah swt mengampuni dan merahmati kita.Amin. 
tulisan ini saya dedikasikan untuk para kaum wanita . 21 april Hari Kartini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar