Wednesday, April 22, 2015

OPINI Pendidikan

Pembelajaran Anti Korupsi


Oleh Agus Yulianto*

            Kasus korupsi yang terungkap akhir-akhir ini seakan tidak pernah berhenti. Ibarat rumput ketika dicabut tumbuh lagi. Seolah-olah korupsi merupakan sebuah budaya yang sudah mengakar di dalam rahim kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Suryono (Hassan:2013), korupsi berasal dari kata Korup artinya buruk, rusak, busuk, suka memakai barang/uang yang dipercayakan kepadanya, memakai kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Bentuk perbuatan korupsi seperti suap, pencucian uang, gratifikasi dan lain sebagainya.
Kasus korupsi di negara kita jumlah yang terungkap sungguh melewati batas kewajaran. Korupsi selama ini telah menenggelamkan kredibilitas bangsa Indonesia di mata dunia yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang baik dan suka menolong. Negara kita telah berusaha memberantas kasus korupsi salah satu usahanya dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Akan tetapi, dengan melihat kasus korupsi yang menimpa toko-tokoh public yang seharusnya menjadi wakil rakyat kini malah menjadi tokoh yang mendzalimi dan tidak layak untuk dijadikan panutan.
 Perbuatan korupsi merupakan salah satu sikap tercela dan merugikan banyak orang. Hal ini tentunya berdampak pada dunia pendidikan, karena pendidikan merupakan salah proses pembentukan kepribadian yang paling penting. Tapi banyak para penjabat kita yang memiliki tingkat pendidikan tinggi justru malah terlibat dalam kasus korupsi. Sebenarnya apa ada yang salah dari sistem pendidikan kita? Orang yang semakin tinggi pendidikannya, semakin besar pula peluang untuk menjadi koruptor. Hal itu mungkin dikarenakan para pejabat kita dulu ketika sekolah tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Maksudnya mereka memperoleh gelar sarjana, doktor bahkan profesor melalui perbuatan mencontek atau dengan kata lain Plagiat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) plagiat diartikan sebagai penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Mungkin tindakan semacam Plagiat sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan. Bahkan hal ini sudah biasa. Perbuatan Plagiat ini merupakan perbuatan mencontek yang bisa menjadikan seorang pelajar sebagai koruptor.
Maraknya kasus korupsi tentunya menjadi kesadaran bagi kita semua bahwa lembaga pendidikan juga mempunyai peran yang sangat signifikan untuk memberanas korupsi. Penanaman karakter atau perilaku yang bermoral terhadap siswa boleh dikatakan masih dalam tataran teori. Misalnya seorang guru marah-marah kepada siswanya karena sering terlambat, sedangkan guru sendiri sering datang terlambat. Sebagai seorang guru kita harus memberikan teladan yang baik kepada peserta didik. Apa yang kita lakukan selalu akan ditiru dan di contoh oleh anak-anak kita.  Contoh lainnya, Sebagai seorang guru harus mengajarkan kepada anak didik supaya tidak mencontek ketika ujian. Akan tetapi, hanya untuk mengejar target kelulusan atau biar lembaga pendidikan dipandang memiliki prestasi yang bagus.  Perbuatan mencontek ketika ujian nasional marak terjadi di lembaga pendidikan. Perbuatan ini sering dilakukan oleh pihak sekolah supaya siswa-siswanya lulus dalam mengikuti ujian. Perlu diketahui bahwa perbuatan mencontek salah satu pintu masuk menjadi seorang koruptor. Ketika seorang guru mengajarkan mencontek sama saja seorang guru mencetak generasi koruptor.
Timbulnya perbuatan korupsi sangatlah bergantung pada apa yang mereka kerap lakukan di lingkungan sekolah dulu. Perilaku di sekolah inilah yang perlu kita perhatikan untuk menghindari perbuatan korupsi di kemudian hari. Banyak kegiatan di sekolah yang dapat menimbulkan perilaku korupsi.
Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan bahwa untuk membangun budaya anti-korupsi dimulai dari dunia pendidikan. Penanaman nilai-nilai anti-korupsi dapat dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar. Guru sebagai pengajar bertugas sebagai sumber teladannya. Dengan keteladanan diharapkan mampu mencerminkan sikap anti-korupsi bagi peserta didik. Selain keteladanan, membangun budaya anti korupsi dapat dilakukan dengan cara-cara yang inovatif dan kreatif namun tetap menyenangkan. Keteladanan sangat kuat perannya dalam menumbuhkan sikap anti korupsi. Ada sebuah ungkapan orang Jawa Guru di gugu lan di tiru. Bagaimanapun juga guru merupakan sandaran dan teladan bagi siswa-siswanya.
Metode Pembelajaran
Menurut Elwina dan Riyanto dalam Yaramadani, Febri (2012), menyarankan bahwa dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi ada salah satu metode yang dapat dilakukan, yaitu Metode Demokratis. Metode ini menekankan pencarian secara bebas dan penghayatan nilai-nilai hidup dengan langsung melibatkan anak untuk menemukan nilai-nilai tersebut dalam pendampingan dan pengarahan guru. Guru tidak bersikap sebagai pemberi informasi satu-satunya dalam menemukan nilai-nilai anti korupsi yang dihayatinya. Guru berperan sebagai penjaga garis atau koridor dalam penemuan nilai hidup tersebut. Metode ini dapat digunakan untuk menanamkan nilai keterbukaan, kejujuran, penghargaan pada pendapat orang lain, sportivitas, kerendahan hati dan toleransi. Tahap demi tahap anak diajak untuk menata jalan pikiran, cara berbicara, dan sikap hidupnya. Dengan cara ini anak diajak untuk belajar menentukan nilai hidup secara benar dan jujur.
Pembelajaran anti korupsi pada prinsipnya menggunakan seluruh metode yang melibatkan seluruh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta kecerdasan sosial. Dalam penyampaian nilai-nilai anti korupsi harus digunakan cara-cara yang menarik dan disesuaikan dengan kemampuan anak didik.
            Selain itu, Pemerintah seharusnya memperhatikan tentang sistem pendidikan di Indonesia. Pemerintah lebih menekankan pada pendidikan moral dan norma sosial. Karena pendidikan moral dapat menjadi pondasi yang kokoh terhadap pembentukan karakter siswa. Penanaman sikap kejujuran didalam keseharian siswa di lingkungan sekolah.  Mengubah perilaku tidak atau kurang jujur menjadi jujur bukanlah suatu hal yang ringan. Sikap jujur dapat dicapai dengan pembelajaran dalam dunia pendidikan. Sebagai seorang pendidik selama ini saya merindukan  kurikulum pendidikan anti korupsi dijadikan bagian dari mata pelajaran di sekolah. Apalagi di dukung dengan perubahan kurikulum yang saat ini kembali kepada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Sangat memungkinkan sekali bahwa setiap sekolah bisa mengembangkan kurikulum anti-korupsi secara mandiri. Seperti itu.




No comments:

Tulisan Disukai Pembaca

Mengulas Buku Fiksi Antologi Cerpen Amygdala

  Amygdala Sebuah Proses Kehidupan www.agusyulianto.com   Judul Buku : Antologi Cerpen FLP Jawa Tengah Amygdala Penulis : Rahman Hanifan, ...