Selasa, 25 Desember 2012

Cerpen


Aku Ingin Sekolah


“ Nek…Ayuk mau sekolah seperti Santi dan Jojon ? “ dengan nada memelas Ayuk mencoba menyakinkan Neneknya agar dia bisa disekolahkan. Ayuk memang selama ini hidup hanya berdua dengan Neneknya. Semenjak kecil Ayuk sudah jauh dari kedua orang tuanya. Ayah dan Ibunya meninggalkan ayuk begitu saja. Karna mereka selama ini tidak mengingikan kehadiran Ayuk. Mereka hamil di luar nikah dan kehadiran Ayuk merupakan kehadiran yang tidak membawa kebahagiaan. Di satu sisi ibunya ayuk adalah anak seorang tukang becak sedangkan ayahnya Ayuk keturunan ningrat, keratonan. Mereka bisa di pertemukan ketika masih sekolah di SMA Cokro Aminoto. Bisa dikatan ibunya ayuk meskipun berasal dari keluarga yang tidak berada tapi, kecantikannya melebihi putri keraton. Oleh karena itu , Melihat kecantikan Ibunya Ayuk yang bernama Sartika , Ayahnya Ayuk yang bernama Raden Aji tertarik dan ada keinginan untuk mempersuntingnya. Namun karna perbedaan kasta akhirnya cinta mereka tak direstui. Akhirnya mereka melakukan sebuah perbuatan yang dapat mencoreng nama baik keraton. Dari pihak keluarga Aji tidak dapat menerima kehadiran Sartika. Akhirnya Aji pun di ungsikan keluarganya ke Amerika untuk di kuliahkan disana. Sementara Sartika harus rela melepaskan Aji dari kehidupannya. Sartika pun terpukul berat atas kepergian kekasihnya itu, siang malam Sartika hanya ngalamun mengurung dirinya di kamar. Dan sampai suatu ketika lahirlah si Ayuk. Karna tidak ingin membuat malu keluarganya Sartika pun pergi entah kemana tanpa pesan sedikitpun kepada kedua Bapak dan Ibunya, hanya bayi mungil, lucu di tinggalkan sendirian di dalam kamarnya serta sepucuk surat yang berisikan “ Tolong Jaga anakku Pak, Bu ? Maaf Sartika harus pergi..”. semenjak itulah kedua orang tua Sartika tidak pernah mendapatkan kabar kemana anaknya satu-satunya itu pergi. Hingga saat ini Sartika tidak dapat di ketahui keberadaannya. Sementara itu Kakenya Ayuk sudah lama tiada ketika Ayuk berusia lima tahun. Kini Ayuk sudah remaja seandainya kalau dia sekolah sekarang dia duduk di bangku SMA. Namun apa dikata , Neneknya yang sudah berusia 70 tahun sudah tidak mampu lagi menyekolahkan Ayuk. Rumah yang hanya terbuat dari bambu , kadang kalau makan mereka harus mencari hutangan kalau tidak dapat hutangan mereka pun harus puasa. Melihat kondisi yang seperti itu Ayuk sempat bingung harus berbuat apa. Ketika melihat dirinya yang hanya tamatan SD dia bingung mau kerja apa. Dia selalu berusaha keras untuk melamar beberapa tempat tapi apa dikata “ Maaf mbak kami tidak membutuhkan tamatan SD tapi yang kami butuhkan tamatan SMA ..” . Rasa asa pun sering kali menggelayuti diri Ayuk. Ingin menangis …tapi tidak bisa. Ingin berteriak …namun apa daya. Ketegaran hanya modal yang dia miliki. Sikap pantang menyerahnya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan . Serta keuletannya tidak ada yang bisa menandingi. Doa selalu mengiringi dalam setiap langkahnya, Asma Allah pun tidak pernah lepas dari setiap langkah kakinya. Gadis belia seusianya yang seharusnya bisa menikmati masa-masa remajanya. Kini dia lalui dengan kerja sebagai tukang cuci di rumah tetangganya. Upah yang di bilang tidak layak harus dia terima. Itulah yang harus dia lakukan untuk bertahan hidup bersama Neneknya. Di keesokan harinya Ayuk melihat Neneknya terbaring sakit lemas , badannya panas. Ayuk pun harus membawa Neneknya ke rumah sakit. Ketika sampai disana Dokter mengatakan bahwa Neneknya terkena deman yang cukup tinggi . Neneknya harus di opname . Ayuk pun sempat bingung harus berbuat apa. Uang hasil kerjanya yang selama ini dia tabung agar kelak bisa melanjutkan sekolah . Dia harus ikhlaskan untuk membiayai pengobatan Neneknya. Hanya seberapa uang yang dia miliki ternyata tidak mencukupi untuk membiayai Neneknya. Ayuk pun sempat kebingungan kemana dia harus mencari uang sebesar satu juta. Tabungannya hanya tiga ratus lima puluh ribu. Masih banyak kekuranganya. Belum lagi biaya untuk beli obat. Ayuk pun tidak dapat tinggal diam. Dia tambah jam kerjanya selain mencuci piring, dia juga menerima cucian pakaian. Dia setiap pagi habis sholat shubuh, dia harus jalan kaki menuju rumah tetangganya untuk bekerja bisa dikatakan jarak antara rumahnya dengan tetangganya sekitar tiga kiloan. Apalagi rumah Ayuk berada jauh dari sebuah keramaian pedesaan. Dia tinggal di sebuah hutan yang bisa dikatakan layak huni. Di hutan tersebut hanya berpenghuni tiga kepala keluarga sebuta saja keluarganya Sinta dan Jojon. Satu bulan kemudian Ayuk pun bisa mendapatkan hasil dari kerja kerasnya. Uang satu juta pun bisa terkumpul bahkan lebih . Rasa syukur kepada Allah SWT selalu terniang di dalam hantainya. Ayuk pun bisa membayar biaya pengobatan Neneknya. Ketika dalam perjalanan pulang mengantar Neneknya. Ayuk sempat membaca sebuah pengumuman dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang di tempel di papan pengumuman di Kelurahan. Di pengumuman tersebut memberikan info tentang sekolah gratis bagi warga yang selama ini tidak tamat atau tidak dapat melanjutkan sekolah. Seketika itu Ayuk langsung tergerak hatinya untuk mendaftarkan dirinya. Raut wajah bahagia menyelimuti hatinya. Impiannya untuk dapat melanjutkan sekolah akhirnya tercapai juga. Meskipun sekolah itu hanya sekolah setara. Tapi hal itu tidak menjadikan hatinya kecil. Ayuk paham betul pentingya pendidikan. Walaupun hanya sampai SMA. Karna sekolah itu sangat penting untuk menunjang dan mengantarkan masa depan kita . Semenjak Ayuk ikut sekolah setara, Ayuk begitu rajin belajar. Dan dia selalu menyisihkan uang hasil kerjanya untuk membeli buku. Prestasi demi prestasipun dia dapatkan. Ayuk sempat di kirim ikut lomba cerdas cermat dan beberapa kompetensi antar sekolah setara. Gelar sang juara pun kini di sandangnya. Kehidupan Ayuk perlahan-lahan mulai ada perubahan Meskipun begitu Ayuk tetap bekerja di rumah tetangganya sebagi tukang cuci piring dan cuci pakaian. Tak ada rasa lelah sedikitpun di raut wajah Ayuk. Hanya rasa kebahagiaan yang menyelimuti dirinya. Kerja keras dan usaha yang dia lakukan akhirnya membuahkan hasil. Semangatnya untuk menuntut ilmu tidak pernah berhenti sampai di SMA. Ayuk pun mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikanya ke Perguruan Tinggi yang biayanya di tanggung seluruhnya oleh pemerintah. Beberapa tahun kemudian, kondisi Ayuk jauh berbeda. Neneknya sangat bahagia karna cucunya kini bisa menjadi apa yang dia impi-impikan. Meskipun mereka masih setia untuk tinggal di gubuk bambu yang menggoreskan sejarah kehidupannya. Guru adalah predikat yang di sandang oleh Ayuk. Lulusan dari sebuah Perguruan Tinggi ternama di Indonesia. Kini Ayuk menjadi salah seorang pengabdi untuk mencerdaskan bangsa-bangsanya. Dia pun bersama rekan-rekan semasa kuliahnya dulu mendirikan sebuah pendidikan gratis mulai dari SD sampai SMA di daerahnya. Karna betapa pentingnya pendidikan itu. Dia tidak menginginkan warganya seperti Ayuk dulu ketika mau sekolah tidak tercapai, ketika mau melamar kerja hanya dengan ijasah SD tidak di terima. Pengalaman hidupnya tidak ingin terulang di generasi ini. Harapannya untuk mencerdaskan warganya melalui pendidikan gratis. akhirnya berhasil. Karna hasil dari kerja kerasnya Desanya yang dulu terkenal sebagai desa yang banyak buta aksara akhirnya desanya kini menjadi salah satu desa unggulan penerapan pendidikan gratis. Dan banyak ilmuwan dan para pejabat yang datang kesana untuk mengadakan penelitian atau memberikan bantuan untuk keberlangsungan pendidikan. Ayuk pun mendapatkan julukan guru sejati karna kesetiaan serta pengabdiannya untuk masyarakat. Pemerintah pun juga memberikan sebuah penghargaan kepada Ayuk sebagai wanita ispirasi pendidikan gratis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar