Kamis, 27 Desember 2012

Catatan Hatiku


Satu Hari, Sepenggal kisah perjalanan hidupku  

      
         Hidup itu suatu kenikmatan yang tiada tara ketika kita bisa memanfaatkan perjalanan kehidupan ini dengan sebaiknya. Dan yang terpenting kita tidak melupakan sang Pencipta. Setiap manusia pasti mempunyai kisah tersendiri dalam mengarungi perjalanan kehidupannya. Melalui goresan kata-kata ini aku akan berbagi cerita tentang hidupku, kisahku dan perjalananku dalam mengarungi samudra kehidupan. Kisahku ini akan aku mulai pada kegiatan sehari-hari. Tapi sebelumnya kita kenalan dulu. Namaku Agus Yulianto, anak Karanganyar kelahiran 27 Juli.  Memang aku bukan remaja lagi tapi aku tetap muda dan semangatku tak mau kalah dengan semangat anak remaja dalam menjalani kehidupan ini.
 Perjalanan hidupku aku mulai ketika pukul 04.30 wib pagi. Inilah waktu ku untuk mendekatkan diri kepada sang khalik. Ya..ibadah sholat shubuh. Itulah hal yang tidak aku lupakan.Setelah menjalankan ibadah sholat shubuh aku tidak lupa menyempatkan diri untuk tilawah meskipun walau hanya 3 lembar. Pukul 05.00 aku menjalani aktivitas pagi seperti biasanya ; olahraga lari-lari mengelilingi lapangan kampus IAIN Surakarta. Karna hidupku memang di kampus. Aku anak penjaga masjid kampus. Sudah 3 tahun ini aku menjadi takmir masjid. Lari pagi usai, aku melanjutkan aktivitasku bersih-bersih masjid. Seperti nyapu, bersihkan kamar mandi dan lain sebagainya. Itu semua aku lakukan sampai jam 06.30. Setelah semua selesai aku istirahat sejenak sambil membaca Koran biar tahu berita yang berkembang. Karna prinsipku sebagai mahasiswa aku jangan sampai ketinggalan informasi. Istirahat usai, aku  mulai persiapan untuk sarapan pagi dan berangkat kuliah. Di takmir Alhamdulillah kita makan masak sendiri sehingga pengeluaranku bisa di hemat. Dengan jatah dari orang tua perbulan hanya 100 ribu rupiah bisa dikatakan itu belum mencukupi kebutuhanku sebagai mahasiswa. Jam 07.00 pagi aku sudah berangkat kuliah menuju kampusku yang hijau. Akupun mengikuti perkuliahan dengan seksama. Setelah usai kuliah sekitar pukul 12.00 wib aku melanjutkan dengan ibadah sholat Dhuhur.
            Pukul 13.00 wib aku tidak hentinya untuk beraktivitas kembali.aku mengikuti sekolah tahsin yang di adakan lembaga pengembangan pendidikan al-qur’an yaitu LP2Q yang berada di IAIN Surakarta. Aku mengikuti kegiatan ini sudah sejak semester 4 kemarin dan sampai sekarang. Kegiatan tersebut merupakan sarana pembelajaran membaca al-qur’an bagi mahasiswa yang mau ingin mengembangkan kemampuannya dalam membaca al-qur’an. Kegiatan ini berlangsung sampai pukul 15.00 Wib dengan pengampu oleh Ustadz Rial Fu’adi. Seusai belajar Tahsin tidak lupa aku melaksanakan kewajibanku sebagai umat islam yaitu ibadah sholat Ashar. Dan aktivitasku masih berlanjut tidak sampai di sini saja.
Pukul 15.30 aku harus persiapan untuk siaran di Radio Dista FM sebuah Unit kegiatan Mahasiswa di bidang broadcasting. Aku di sana sebagai penyiar khusus untuk acara talk show. Dan kali ini aku akan memandu talk show dengan salah satu UKM di IAIN. Di radio Dista aku sudah tidak memakai nama asliku, tapi aku punya nama sendiri sebagai seorang penyiar, Dj Bagus. Itulah nama udaraku setiap kali mengudara aku selalu menggunakan nama itu. Nama itu aku pilih karna suaraku memang bagus dan keren kata sobat dista , sebutan bagi para pendengar radio Dista. Aku memandu jalannya acara tersebut sampai pukul 16.30 WIB. Sungguh sangat menyenangkan ketika aku bisa menghibur para pendengar meskipun sekarang dikatakan peminat radio begitu minim dibandingkan tahun lalu. Hal ini di karenakan karna berkembangnya teknologi audio-visual , televise.
            Usai siaran aku melanjutkan aktivitasku kembali; rapat. Aku selain bergabung dengan UKM Dista aku juga aktif di UKM LDK. Alhamdulillah di LDK aku di amanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat ( HUMAS ). Pada pertemuan kali ini aku dan tim humasku merancang sebuah program kegiatan yaitu kegiatan kunjungan di sebuah lembaga yang bergerak di media. Pada kegiatan rapat kali ini kita menghasilkan satu agenda yaitu kita akan adakan kegiatan kunjungan di sebuah media massa yang ada di daerah Solo raya. Tentunya media yang akan kita tuju merupakan sebuah media yang tidak asing lagi. Media itu antara lain Media cetak Joglo Semar. Yang salah satu media surat kabar yang baru berdiri menyemarakkan media di solo raya. Rapat pun usai pukul 17.30 akupun kembali ke takmir untuk persiapan sholat magrib dan bersih-bersih badan.
            Suara adzan berkumandang pukul 17.56, setelah usai mandi aku menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah sholat magrib. Setelah selesai sholat aku melanjutkan dengan membaca al-qur’an sampai ibadah sholat isya’menjelang. Usai sholat isya’ aku dan teman-teman yang ada di takmir persiapan makan malam. Untuk merubah suasana di malam ini kita tidak masak akan tetapi, kita pergi jajan bareng ke luar. Kita mencoba untuk menikmati suasana malam di luar, biasa tempat makan yang paling kita suka di hek depan sekolah SMK Muhammadiyah Kartasura.
            Pukul 20.00 aku dan teman-teman takmir kembali menuju tempat berteduh kita, takmir bukhori. Aku pun melanjutkan aktivitas seperti biasanya membaca buku serta membuat tugas kuliah. Hal itu aku lakukan sampai pukul 24.00 Wib. Memang aku ini hobi sekali membaca buku dan menulis. Buku yang paling aku suka yaitu buku tentang cerita , kisah atau tentang pendidikan. Ada beberapa buku yang sudah aku baca seperti; kumpulan cerpen, novel asma nadia cacatatan hati seorang istri, negeri lima menara, serial petualangan mahasiswa UGM di samudar atlantik, serta buku buku yang memuat isu pendidikan., misal buku yang mengupas liberalisasi pendidikan dan yang paling ngtren saat ini buku yang memuat tentang pendidikan karakter.
Hidupku memang tidak pernah lepas dari aktivitas. Satu menit saja aku tidak beraktivitas serasa diri ini ada sebuah kebingungan ‘apa yang akan aku lakukan’.dan ketika aku tidak memberikan nutrisi otakku melalui membaca. Seakan diri ini kehausan akan sebuah ilmu. Alhamdulillah dari kegemaranku membaca aku bisa menuangkan sebuah gagasan, ide-ide dalam sebuah tulisan. Baik itu tulisan yang aku kirimkan di media cetak maupun yang aku aupload di blog ku sendiri. Bagi kalian yang mau melihat atau penasaran dengan tulisanku bisa kalian kunjungi di blog: yuliagusyulianto.blogspot.com. itulah kisahku tentang perjalanan keseharianku. Aku bukanlah manusia yang sempurna akan tetapi aku bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah SWT kepadaku. Meskipun diri ini kadang merintih kelelahan bahkan rasa malas pun kadang menyelimuti namun aku tetap berusaha memotivasi diri ini agar terus produktif. Hidup itu sekali maka jangan sia-siakan kesempatan berharga ini. Salam semangat.

Cerpen



Balada Cinta Zakia 


            Setiap kali aku memandang bintang di langit malam yang begitu jauh . Aku merasakan jurang pemisah antara Aku dan Nisa yang makin menganga lebar. Kepergiannya setahun yang lalu untuk merantau ke negeri orang masih menyisakan perih di dasar hatiku. Ketika kutatap matanya yang bening tersimpan sebuah kesedihan yang menyesakkan dada. Saat ku dekap kedalam pelukanku aku merasakan gemuruh didasar hatinya dan air mata telah melelh di pipinya.
            Memang bukan keinginan Nisa untuk pergi dari kota ini. Keadaan keluarganya yang broken home memaksa dirinya untuk ikut bersama Ibunya ke Belanda. Di dalam hatiku aku tak tau siapa yang harus kusalahkan atas kepergian Nisa dari sisiku. Aku hanya bisa pasrah dengan takdir yang telah berkata.
            Pengeras suara yang melengking di bandara internasional Adi Sumarmo seakan menyadarkan lamunan yang baru saja menghampiriku. Doaku kembali sesak sesaat kulihat Nisa kembali meneteskan air mata.
            “ Aku pasti akan cepat kembali Za, entah itu kapan akan terjadi. Tapi aku akan selalu merindukanmu setiap waktu. “ Teriris hatiku mendengar kata-kata Nisa.
            Tak kupungkiri kesedihan pun masih menggelayutiku. Setahun kebersamaanku dengan Nisa yang kulalui dengannya kini bagai debu yang tertiup angin. Jemariku menghapus air mata yang membasahi pipinya. Kuraih dia kedalam pelukanku seakan enggan untuk kulepaskan. Pelukan Nisa perlahan memudar saat Ibunya memanggilny untuk menuju pesawat yang telah siap berangkat.
            Ibu Ami pun terharu melihat perpisahan diantara kami yang tak pernah terduga sebelumnya.
            “ Aku pergi Za “ Kata Nisa sambil berbalik meninggalkanku. Aku hanya bisa memandangi raut wajahnya dengan hati yang pilu, semakin lama ku melihatnya semakin menjauh dari pandanganku. Akhirnya burung baja itupun menerbangkannya kenegri seberang.

-------**-----
            Setahun kemudian setelah perpisahan itu sampai sekarang masih dapat kurasakan debaran Nisa saat berada di pelukanku. Juga air matanya masih terniang di dalam ingatanku. Untuk menahan kerinduan ini aku selalu memandang foto ketika dulu kita bersama. Satu tahun kepergiannya belum dapatkan kabar tentang dirinya di negeri Kincir Angin. Namun aku tetap menjaga kesetiaan cinta ini agar suatu saat nanti cinta suci ini bisa kupersembahkan kepada dirinya saat dia kembali di sisiku.
            Waktu yang semakin cepat berlalu tak dapat satupun kabar tentang dirinya. Ketika ku telpon nomornya sudah ganti. Apakah ini pertanda dia sudah melupakanku. Ah...tidak mungkin. Dia berjanji padaku untuk menjaga rasa cinta ini. Tapi kenapa dia menghilang begitu saja. Ya Allah...cinta kita memang benar kau uji. Hatiku yang resah selalu berkata.
            Cintaku pada Nisa kini sudah mulai goyah pilarnya karena kehadiran Muslimah. Seorang gadis anggun yang selalu menjaga Ibadah dan Cintanya. Hatiku bergetar ketika aku jumpa dirinya. Ada rasa apa ini. Gumanku dalam hati. Dia begitu santun tutur katanya. Bahkan mata selalu menjaga pandangannya. Cinta yang dia miliki bukanlah cinta karna nafsu, tapi cinta karna Allah Swt. Aku memang egois, janji setia yang kuberikan pada Nisa kini kunodai sendiri  dengan hadirnya Muslimah di dalam kehidupanku. Untuk menjaga diri ini dari godaan syaiton atas saran Pak Syamsul , Ayah muslimah. Aku pun meminangnya. Ini tanpa sepengetahuan Nisa. Maafkan aku Nis...
            Muslimah, gadis yang berfisik lemah itulah yang menggoyahkan pilar-pilar kesetiaanku. Aku tahu Muslimah terkena kanker hati. Hidupnya pun tak akan bertahan lama.Mungkin karna alasan itulah perasaan cintaku padanya tumbuh perlahan-lahan.
            “ Kurasakan hari-hariku semakin suram Za, apalagi dokter bilang kalau umurku tidak akan lama lagi.” Kata Muslimah tertunduk lesu.
            “ Kamu kenapa bicara seperti itu, hidup mati manusia itu Allah yang mentakdirkan. Dokter hanya bisa mendiagnosa . Muslimah waktu yang singkat ini, kamu harus bisa menjalani hidupmu dengan ceria dan yakin kamu akan sembuh. “ Kataku memotivasi dirinya.
            Muslimah tersenyum tipis sambil menatap langit yang mulai berwarna jingga. Kami berjalan beriringan di kawasan wisata Cemara Sewu, Tawangmangu Karanganyar. Sinar matahari yang masih bersinar terik menyorot tajam diantara pucuk-pucuk cemara.
            “ Aku takut hari-hari yang menyenangkan ini akan segera sirna dari hadapanku jika kekasih hatimu yang dulu kembali di sisimu Za.” Jelas Muslimah padaku.
            Aku terperanjat kaget baru tersadar kalau bayangan Nisa makin mengabur dari ingatanku. Haruskah aku merasa berdosa karena telah mengkhianati kesucian cinta Nisa demi seorang wanita yang begitu rapuh hidupnya.
            Tidak aku tidak mengkhianati Nisa, Aku akan merasa berdosa jika aku mebiarkan wanita sholeh ini menderita sendiri di dalam hidupnya. Aku hanya ingin memberinya kebahagiaan.
            “ Apa kamu yakin Nisa akan kembali kesini “ Tanyaku
            “ Aku dia bakal kembali ke sini. Bahkan ke dalam kehidupanmu. Hati wanita mana yang rela pujaan hatinya pergi begitu saja dari dalam kehidupannya. Apalagi cinta kalian telah terukir begitu lama. Hanya saja waktu telah menguji kalian. “ Air mata Muslimah mulai menetes perlahan dari matanya yang sayu.
            Kami pun berhenti melangkah. Ku tatap lekat mata Muslimah. Matanya yang bening sebening embun pagi mengingatkan aku pada Nisa. Dan kini aku kembali menyaksikan butiran kristal meluncur dari telaga Muslimah.
            “ Aku pasti tidak akan maafin kamu Za. Karena kamu telah masuk ke dalam hidupku. Aku sayang sama kamu. Dan aku tak tahu apa selama ini cintamu tulus padaku.” Bisik Muslimah sambil merebahkan kepalanya di dadaku.
Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Memang cintaku kepada Muslimah cinta karna peduliku pada dirinya. Bukan cinta karna kesetiaan. Aku selama ini hanya tak tega melihat gadis se sholeh dia hidup sendiri tanpa sebuah cinta hanya karna rasa sakit yang dialaminya. Manusia macam apa aku ini. Cintaku yang tumbuh karna nafsu kini mengikis sudah kedalam rongga hidupku. Aku hanya bisa pasrah dalam menjalani hidup ini. Bagaimanapun aku akan selalu menjaga istriku ini. Sampai kapanpun meski ajal telah memisahkan kita berdua. Aku harus mulai melupakan Nisa. Dia bukan milikku.Dia hanya sebatas kenangan dalam catatan hatiku.
            Ku peluk erat Muslimah dan ku katakan padanya “ Aku tak akan meninggalkanmu.Aku akan selalu setia menjaga rasa cinta ini. “ Air mataku pun tak terbendungkan.
            Dalam perjalanan pulang keheningan menyergap kami berdua. Kubiarkan saja Muslimah terhanyut dalam pikirannya sendiri. Matahari hampir terbenam yang terlihat hanya sebuah bulatan yang berwarna kuning jingga indah menghias langit.

----------------**---------------

            Hari demi hari berlalu  dengan cepatnya. Aku bagaikan berlari mengejar waktu. Hingga kini hampir 3 tahun perjalanan cintaku bersama Muslimah. Dan 3 tahun pula kepergian Nisa ke Negeri Tulip. Tapi perasaan ini masih saja ada untuk Nisa.
            Sore ini seperti biasa aku menanti Muslimah di hutan pinus untuk melihat matahari terbenam. Kulirik arloji di tanganku, sudah 10 menit aku berdiri di tempat ini. Tapi Muslimah belum ada tanda-tanda kedatanganya. Dari jauh aku mendengar deruh mobil menuju kearahku. Dan memang benar sebuah mobil Baleno berwarna biru laut berhenti tepat di depanku. Sesaat sosok wanita turun dari mobil itu . Mataku terbelalak lebar, saat aku tau siapa wanita itu yang kini berdiri dihadapanku.
            Nisa...benarkah wanita yang kulihat itu adalah Nisa. Rasa tak percaya di dalam diriku. Mungkin ini hanya halusinasiku belaka. Saat wanita itu menyebut namaku aku baru percaya kalau ini memang nyata. Bukan halusinasi. Dulu ketika kita masih bersama seringkali kita menghabiskan waktu sore hari di hutan pinus ini hanya untuk melihat terbenamnya matahari. Dan sinilah kita berjanji untuk saling setia. Teringat kenangan itu membuat diri ini bersalah.
            “ Apa kabar Za. Setiap detik setiap menit aku selalu merindukanmu. Aku tak sabar menanti hari ini untuk bertemu denganmu. Apa kau masih ingat janji setia kita. Dan maaf akn aku selama ini tak kubalas kerinduanmu padaku. Aku hanya ingin tau seberapa besar rasa cintamu padaku. Apakah kamu bisa menjaga kesetiaan ini. “ Semburat kata-kata Nisa membuat aku tertegun tak berdaya. Apa yang akan terjadi jika dia tahu bahwa hati ini sudah ada yang menggantikannya.
            “ Ada apa Za. Kenapa kamu diam. Apa ada yang salah dengan kehadiranku.Apa aku sudah jauh berbeda dengan Nisa yang dulu. Apa kau marah padaku.” Kata-kata tajam meluncur dari bibir manisnya Nisa. Seakan dia mengintograsi diriku. Ada apa ini. Kok g ada senyum khas di wajahmu.
            Aku sulit untu berbicara. Bibir ini terkunci rapat. Dan kuncinya itu hilang entah kemana. Aku bingung.......Kenapa ini harus terjadi kembali. Ya Allah...Apa salah hamba.
            “ Apa kau benar-benar Nisa, yang aku rindukan dan ku nantikan selama bertahun-tahun. ? “ rasa tak percaya seakan masih menyelimuti diri ini.
            Nisa mengangguk pelan di iringin air mata yang membanjiri pipinya seakan menyakinkan aku kalau dia benar-benar wanita pujaanku.
            Di depan sana aku tak menyadari tatapanku. Ada air mata menetes dari sudut matanya. Perih kurasakan bagai menikam jantungku dan kini aku tersudut tak tau apa yang harus aku lakukan. Seandainya dulu aku tak merobohkan kesetiaanku untuk Nisa dan tidak memasukkan Muslimah kedalam kehidupanku, mungkin sekarang ini aku tak menambah deret luka di hati Nisa.
            “ Siapa dia Za ?” tanya Nisa penuh rasa penasaran mengenai gadis itu.
            Dia menanyaan siapa wanita itu yang bergaun putih di seberang sana. Aneh, Muslimah yang sedang kami perhatikan tak bergeming dari tempatnya berdiri. Wajah manisnya bagai sinar yang terpantul oleh sang Surya. Ada yang lain dengan Muslimah. Walaupun sekarang dia sudah ada didepanku tapi, kurasakan kehidupannya jauh dariku. Seakan desah nafasnya sudah tidak dapat kurasakan lagi.
            “ Kamu belum jawab pertanyaanku siapa dia Za.? Sambung Nisa.
            “ Muslimah.. Dia istriku...” Seakan tersambar petir ketika ku mengatakan ini pada Nisa.
            Aku beku ditempatku berdiri, mulutku seakan kelu, kata-kata yang akan aku ucapkan bagai tertelan api. Aku menatap mata Nisa ada guratan kegelisahan dan kekecewaan yang tergambar dari wajahnya.
            “ Maafkan aku Nis... memang aku bukan pria yang setia. Saat kerinduan di hatiku makin memuncak Muslimah datang menggoyahkan kesetiaannku. “
            “ Ku kira kau adalah laki-laki yang tegar menghadapi semua cobaan yang merintangi jalan kita tapi nyatanya kau sangat rapuh Za. “ Rasa kesal di dalam hatinya Nisa di luapkan.
            “ Aku memang tak setegar batu karang itu Nis. Aku rapu saat tak ada kabar beritamu tak kunjung datang. Aku rapuh saat kukira kau telah melupakanku.”
            Aku mengalihkan wajahku kearah matahari mencoba menyembunyikan air mataku.
            “ Maafin aku Za” desis  Nisa.
            Angin gunung kembali berhembus menggugurkan dedaunan menimpa kami berdua, menerbangkan asaku ketempat yang jauh.
            Dering ponsel di sakuku seakan menyadarkan lamunanku. Fauzi...ada sebersit tanya dihatiku karena Fauzi adalah kakak Muslimah, dan sudah lama sekali dia tidak pernah menelponku ada apa ya? Terbesit tanya di dalam hatiku.
            “ Halo ada apa Kak ...? “ Tanyaku penuh keheranan
            Begitu mendengar apa yang dikatakan Fauzi wajahku seakan tidak percaya kalau Muslimah telah meninggal. Kankernya kambuh dan 1 jam yang dia telah menghembuskan nafas terakhirnya, Aku masih tidak percaya dengan semua ini apakah ini mimpi ? Padahal sedetik aku melihatnya berdiri disini melihat guratan kesedihan di matanya, apakah yang kulihat tadi hanyalah rohnya, pantas kurasakan jiwanya begitu kosobng ternyata dia telah pergi dari dunia ini. Rasa bersalah begitu besar didalam diriku. Sebagai suaminya aku tidak berada disisinya di saat dia membutuhkanku. Aku nyesal tiada tergantikan. Rasa bersalah begitu luar biasa menggelayuti hidupku.
            “ Ada apa Za. Kenapa wajahmu pucat “ Tanya Nisa.
            “ Istriku Muslimah.......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ? teriakku histeris, dan disaat ini aku ingin berlari sekencang-kencangnya mengejar angin tapi, semua itu tak mampu kulakukan. Aku terduduk dan tak mampu bangkit lagi. Kurasakan Nisa menyentuh bahuku, matanya memandang penuh tanya padaku.
            “ Apa yang terjadi pada istrimu Za ? “
            “ Muslimah meninggal Nis. Kankernya sudah medium akhir dan yang kita lihat tadi mungkin hanyalah rohnya. Kata Fauzi dia telah meninggal satu jam yang lalu. “
            Mata Nisa berkaca-kaca mungkin karena dia kasihan dengan apa yang terjadi pada Muslimah hingga air mata jatuh menajari pipinya.

-----------------**-----------------

            Pemakaman telah sepi hanya ada beberapa orang yang masih disana. Kudengar seseorang memanggilku, saat kumenoleh ternyata Fauzi, dia berjalan kearahku. Dari matanya terlihat kesedihan yang masih membekas.
            “ Sebelum meninggal Muslimah berkata padaku kalau dia sangat berterima kasih padamu Za karena selama ini kamu telah memberinya semangat untuk hidup. Dia juga minta maaf padamu Nis karena mencoba merebut Zakia dari sisimu. Kuharap kalian mau memaafkannya agar Muslimah bisa tenang di alamnya.” Kata Fauzi kakaknya Muslimah.
            Setelah berkata begitu Fauzi bergegas meninggalkan pemakaman. Aku memandangi pusara Muslimah yang masih basah, aku yakin dia telah tenang di alam barunya. Tapi, bayang-bayang Muslimah seakan masih lekat dihatiku. Bayang wajahnya saat tersenyum seakan terlihat jelas dari makamnya. Muslimah telah memberiku satu kesempatan untuk mengulangi lagi kesalahanku di masa lalu, kesalahan dengan menduakan Nisa.
            “ Terimakasih Nis...? “ batinku dalam hati. Kulirik wanita yang berdiri di sampingku itu.
            “ Aku sangat berterimakasih pada Muslimah ...Karena dia telah mengembalikan orang yang sangat aku cintai walaupun dia harus menebus semua ini dengan kematiannya dan aku bisa berterima kasih setulus hatiku Za.” Kata Nisa pelan
            “ Aku juga sama sepertimu Nis, karena Muslimah aku sadar kalau rasa kesepian bisa membuatku melakukan apa saja termasuk untuk menduakanmu tapi, sekarang aku akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan itu. “
            Kini cinta yang dulu telah hilang tumbuh kembali di antara kita. Di depan makan Muslimah kita menjalin janji untuk saling setia. Dan aku katakan pada Nisa satu hal yang selama ini aku nanti-nantikan.
            “ Nis...Ijinkan aku meminangmu.” Tegasku padanya.  
           
( Dalam Sebuah Catatan Hatiku : Agus Yulianto )





Selasa, 25 Desember 2012

Cerpen


Aku Ingin Sekolah


“ Nek…Ayuk mau sekolah seperti Santi dan Jojon ? “ dengan nada memelas Ayuk mencoba menyakinkan Neneknya agar dia bisa disekolahkan. Ayuk memang selama ini hidup hanya berdua dengan Neneknya. Semenjak kecil Ayuk sudah jauh dari kedua orang tuanya. Ayah dan Ibunya meninggalkan ayuk begitu saja. Karna mereka selama ini tidak mengingikan kehadiran Ayuk. Mereka hamil di luar nikah dan kehadiran Ayuk merupakan kehadiran yang tidak membawa kebahagiaan. Di satu sisi ibunya ayuk adalah anak seorang tukang becak sedangkan ayahnya Ayuk keturunan ningrat, keratonan. Mereka bisa di pertemukan ketika masih sekolah di SMA Cokro Aminoto. Bisa dikatan ibunya ayuk meskipun berasal dari keluarga yang tidak berada tapi, kecantikannya melebihi putri keraton. Oleh karena itu , Melihat kecantikan Ibunya Ayuk yang bernama Sartika , Ayahnya Ayuk yang bernama Raden Aji tertarik dan ada keinginan untuk mempersuntingnya. Namun karna perbedaan kasta akhirnya cinta mereka tak direstui. Akhirnya mereka melakukan sebuah perbuatan yang dapat mencoreng nama baik keraton. Dari pihak keluarga Aji tidak dapat menerima kehadiran Sartika. Akhirnya Aji pun di ungsikan keluarganya ke Amerika untuk di kuliahkan disana. Sementara Sartika harus rela melepaskan Aji dari kehidupannya. Sartika pun terpukul berat atas kepergian kekasihnya itu, siang malam Sartika hanya ngalamun mengurung dirinya di kamar. Dan sampai suatu ketika lahirlah si Ayuk. Karna tidak ingin membuat malu keluarganya Sartika pun pergi entah kemana tanpa pesan sedikitpun kepada kedua Bapak dan Ibunya, hanya bayi mungil, lucu di tinggalkan sendirian di dalam kamarnya serta sepucuk surat yang berisikan “ Tolong Jaga anakku Pak, Bu ? Maaf Sartika harus pergi..”. semenjak itulah kedua orang tua Sartika tidak pernah mendapatkan kabar kemana anaknya satu-satunya itu pergi. Hingga saat ini Sartika tidak dapat di ketahui keberadaannya. Sementara itu Kakenya Ayuk sudah lama tiada ketika Ayuk berusia lima tahun. Kini Ayuk sudah remaja seandainya kalau dia sekolah sekarang dia duduk di bangku SMA. Namun apa dikata , Neneknya yang sudah berusia 70 tahun sudah tidak mampu lagi menyekolahkan Ayuk. Rumah yang hanya terbuat dari bambu , kadang kalau makan mereka harus mencari hutangan kalau tidak dapat hutangan mereka pun harus puasa. Melihat kondisi yang seperti itu Ayuk sempat bingung harus berbuat apa. Ketika melihat dirinya yang hanya tamatan SD dia bingung mau kerja apa. Dia selalu berusaha keras untuk melamar beberapa tempat tapi apa dikata “ Maaf mbak kami tidak membutuhkan tamatan SD tapi yang kami butuhkan tamatan SMA ..” . Rasa asa pun sering kali menggelayuti diri Ayuk. Ingin menangis …tapi tidak bisa. Ingin berteriak …namun apa daya. Ketegaran hanya modal yang dia miliki. Sikap pantang menyerahnya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan . Serta keuletannya tidak ada yang bisa menandingi. Doa selalu mengiringi dalam setiap langkahnya, Asma Allah pun tidak pernah lepas dari setiap langkah kakinya. Gadis belia seusianya yang seharusnya bisa menikmati masa-masa remajanya. Kini dia lalui dengan kerja sebagai tukang cuci di rumah tetangganya. Upah yang di bilang tidak layak harus dia terima. Itulah yang harus dia lakukan untuk bertahan hidup bersama Neneknya. Di keesokan harinya Ayuk melihat Neneknya terbaring sakit lemas , badannya panas. Ayuk pun harus membawa Neneknya ke rumah sakit. Ketika sampai disana Dokter mengatakan bahwa Neneknya terkena deman yang cukup tinggi . Neneknya harus di opname . Ayuk pun sempat bingung harus berbuat apa. Uang hasil kerjanya yang selama ini dia tabung agar kelak bisa melanjutkan sekolah . Dia harus ikhlaskan untuk membiayai pengobatan Neneknya. Hanya seberapa uang yang dia miliki ternyata tidak mencukupi untuk membiayai Neneknya. Ayuk pun sempat kebingungan kemana dia harus mencari uang sebesar satu juta. Tabungannya hanya tiga ratus lima puluh ribu. Masih banyak kekuranganya. Belum lagi biaya untuk beli obat. Ayuk pun tidak dapat tinggal diam. Dia tambah jam kerjanya selain mencuci piring, dia juga menerima cucian pakaian. Dia setiap pagi habis sholat shubuh, dia harus jalan kaki menuju rumah tetangganya untuk bekerja bisa dikatakan jarak antara rumahnya dengan tetangganya sekitar tiga kiloan. Apalagi rumah Ayuk berada jauh dari sebuah keramaian pedesaan. Dia tinggal di sebuah hutan yang bisa dikatakan layak huni. Di hutan tersebut hanya berpenghuni tiga kepala keluarga sebuta saja keluarganya Sinta dan Jojon. Satu bulan kemudian Ayuk pun bisa mendapatkan hasil dari kerja kerasnya. Uang satu juta pun bisa terkumpul bahkan lebih . Rasa syukur kepada Allah SWT selalu terniang di dalam hantainya. Ayuk pun bisa membayar biaya pengobatan Neneknya. Ketika dalam perjalanan pulang mengantar Neneknya. Ayuk sempat membaca sebuah pengumuman dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang di tempel di papan pengumuman di Kelurahan. Di pengumuman tersebut memberikan info tentang sekolah gratis bagi warga yang selama ini tidak tamat atau tidak dapat melanjutkan sekolah. Seketika itu Ayuk langsung tergerak hatinya untuk mendaftarkan dirinya. Raut wajah bahagia menyelimuti hatinya. Impiannya untuk dapat melanjutkan sekolah akhirnya tercapai juga. Meskipun sekolah itu hanya sekolah setara. Tapi hal itu tidak menjadikan hatinya kecil. Ayuk paham betul pentingya pendidikan. Walaupun hanya sampai SMA. Karna sekolah itu sangat penting untuk menunjang dan mengantarkan masa depan kita . Semenjak Ayuk ikut sekolah setara, Ayuk begitu rajin belajar. Dan dia selalu menyisihkan uang hasil kerjanya untuk membeli buku. Prestasi demi prestasipun dia dapatkan. Ayuk sempat di kirim ikut lomba cerdas cermat dan beberapa kompetensi antar sekolah setara. Gelar sang juara pun kini di sandangnya. Kehidupan Ayuk perlahan-lahan mulai ada perubahan Meskipun begitu Ayuk tetap bekerja di rumah tetangganya sebagi tukang cuci piring dan cuci pakaian. Tak ada rasa lelah sedikitpun di raut wajah Ayuk. Hanya rasa kebahagiaan yang menyelimuti dirinya. Kerja keras dan usaha yang dia lakukan akhirnya membuahkan hasil. Semangatnya untuk menuntut ilmu tidak pernah berhenti sampai di SMA. Ayuk pun mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikanya ke Perguruan Tinggi yang biayanya di tanggung seluruhnya oleh pemerintah. Beberapa tahun kemudian, kondisi Ayuk jauh berbeda. Neneknya sangat bahagia karna cucunya kini bisa menjadi apa yang dia impi-impikan. Meskipun mereka masih setia untuk tinggal di gubuk bambu yang menggoreskan sejarah kehidupannya. Guru adalah predikat yang di sandang oleh Ayuk. Lulusan dari sebuah Perguruan Tinggi ternama di Indonesia. Kini Ayuk menjadi salah seorang pengabdi untuk mencerdaskan bangsa-bangsanya. Dia pun bersama rekan-rekan semasa kuliahnya dulu mendirikan sebuah pendidikan gratis mulai dari SD sampai SMA di daerahnya. Karna betapa pentingnya pendidikan itu. Dia tidak menginginkan warganya seperti Ayuk dulu ketika mau sekolah tidak tercapai, ketika mau melamar kerja hanya dengan ijasah SD tidak di terima. Pengalaman hidupnya tidak ingin terulang di generasi ini. Harapannya untuk mencerdaskan warganya melalui pendidikan gratis. akhirnya berhasil. Karna hasil dari kerja kerasnya Desanya yang dulu terkenal sebagai desa yang banyak buta aksara akhirnya desanya kini menjadi salah satu desa unggulan penerapan pendidikan gratis. Dan banyak ilmuwan dan para pejabat yang datang kesana untuk mengadakan penelitian atau memberikan bantuan untuk keberlangsungan pendidikan. Ayuk pun mendapatkan julukan guru sejati karna kesetiaan serta pengabdiannya untuk masyarakat. Pemerintah pun juga memberikan sebuah penghargaan kepada Ayuk sebagai wanita ispirasi pendidikan gratis.