Rabu, 27 April 2011

DEGRADASI REMAJA


         Degradasi sering diartikan sebagai penurun suatu kualitas. Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi tentang pengamatan saya selama ini kepada para kompasianer.
Moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami penurunan kualitas atau degradasi. Dalam segala aspek moral, mulai dari tutur kata, cara berpakaian dll. Degradasi moral ini seakan luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.
          Faktor utama yang mengakibatkan degradasi moral remaja ialah perkembangan globalisasi yang tidak seimbang. Virus globalisasi terus menggerogoti bangsa ini. Sayangnya kita seakan tidak sadar, namun malah mengikutinya. Kita terus menuntut kemajuan di era global ini tanpa memandang (lagi) aspek kesantunan budaya negeri ini. Ketidak seimbangan itulah yang pada akhirnya membuat moral semakin jatuh dan rusak.
Andai saja pemerintah tak sibuk (terus) mengurus tetek bengek masalah korupsi yang terjadi akhir-akhir ini. Mungkin mereka para petinggi Negara memiliki sedikit waktu untuk mengamati anak bangsanya yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Simbol kesantunan warga Indonesia-pun mulai terkikis pada generasi muda, yaitu remaja. Kalau sudah seperti ini lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?
          Globalisasi yang terus menuntut kita untuk bermetamorfosa kadang memang membawa banyak dampak baik. Tapi jangan salah, dampak buruk pun mengikutinya di belakang. Coba sejenak kita amati foto-foto remaja tempo dulu. Kita nilai mereka dari aspek berpakaian. Sebagian besar mereka kelebihan bahan (tertutup). Memang ada satu dua yang memilih pakaian terbuka di era lalu, namun perbandingannya lebih banyak yang mengenakan pakaian tertutup. Kontras dengan kenyataan di abad 20 ini. Kalau dulu yang berpakaian memancing kebanyakan para pelaku entertainer, kalau sekarang tak peduli entertainer atau bukan sama saja.
           Sebenarnya hati ini semakin miris melihatnya. Sebagai seorang remaja, saya sendiri berpikir mau jadi apa bangsa ini kedepannya. Degradasi moral sudah tak dihiraukan lagi. Masih mending jika yang mengalami degradasi mereka yang sudah dewasa. Sebab setidaknya usia produktif mereka akan segera habis. Namun bila remaja yang mengalami degradasi? Bagaimana nanti saat dia dewasa? Takutnya nanti malah semakin menjadi. Terus bagaimana jalan negeri ini bila dipimpin oleh mereka yang kurang bermoral??
Perlu diingat, yang menyerang moral remaja bukan hanya dalam cara berpakaian, namun masih banyak lagi. Tapi, baru kita mengamati cara remaja kini berpenampilan saja sudah membuat kepala jadi pusing. Belum jika kita melihat tingkah polahnya. Dunia narkoba, seks bebas, dan lainnya belum kita singkap.
Dunia narkoba dan seks bebas akhir-akhir ini memang sangat ngetren di kalangan remaja. Ini tandanya ada bukti lagi bahwa moral remaja masa kini memang sudah menurun. Kebudayaan timurnya sudah termakan oleh westernisasi jaman. Sangat memprihatinkan.
Kita tengok ke kejadian beberapa waktu lalu. Saya lupa tepatnya, tapi jelasnya saat masa kelulusan siswa SMA. Di TV maupun koran banyak sekali berita yang menginformasikan perayaan kelulusan yang tidak sewajarnya di lakukan di Indonesia. Mungkin kalau di Negara barat hal seperti itu wajar. Coba tebak dengan cara apa mereka anak ABG yang baru saja dinyatakan lulus memproklamirkan kelulusannya? Gembar-gembor sepeda motor? Sudah biasa, dari jaman orang tua saya sudah begitu. Lantas apa?? Inilah uniknya, merayakan kelulusan dengan melakukan sex party atau pesta sex, masih ditambah acara nyabu bareng atau mabok bareng. Apa ini cerminan generasi baik untuk masa depan?
Degradasi moral memang seharusnya mendapat perhatian lebih. Luangkan waktu sejenak wahai para petinggi Negara, Lihat anak bangsa ini!! Moral mereka ter-degradasi. Marilah kita perbaiki bersama. Saya sebagai remaja merasa takut menatap Indonesia nanti. Siapa tahu dengan perbaikan moral korupsi kedepannya dapat ditekan, bukankah begitu???
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah ( dimensi ruang dan waktu ) . Menurut Edison A Jamli dalam buku Kewarganegaraannya, menyebut globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada satu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di dunia. Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu semakin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain-lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh ini meliputi dua dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Globalisasi memang tidak hanya menawarkan kemajuan pembangunan dan menggeliatnya roda perekonomian karena sekat-sekat pasar yang ada dihapuskan hingga terbukalah peluang pasar tanpa batas. Ketangguhan bangsa kita diuji di era ini, tidak hanya melalui persaingan usaha yang bebas dan tak terbatas, namun bangsa kita juga diuji menghadapi teknologi maju ditengah keterbatasan berpikir dan kultur budaya dan agama yang sedikit demi sedikit mulai memudar. Salah satu dampak negatif juga terjadi di masyarakat, khususnya generasi muda.
Ancaman rusaknya satu generasi akibat globalisasi bisa saja terjadi ketika banyak anak muda kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia, hal ini ditunjukkan dari gejala yang muncul dari kehidupan sehari-hari anak muda. Mulai dari model pakaian yang dari waktu ke waktu semakin minim serta perubahan gaya hidup yang berkiblat ke dunia barat dan menyisihkan budaya luhur bangsa. Kemajuan teknologi selain memberikan manfaat ternyata juga dampak negatif, seperti internet dan handphone. Kedua barang hasil kemajuan teknologi ketika tidak dibarengi dengan kematangan wawasan berpikir penggunanya akan menjadikan bumerang bagi penggunanya, lantaran mereka tidak menggunakan untuk kegiatan yang bermanfaat namun cenderung digunakan untuk kegiatan yang merusak mental, seperti menonton film biru/BF. Keberadaan internet dan HP ( Handphone) ini secara tidak langsung melemahkan rasa sosial penggunanya kepada masyarakat sekitar, namun juga membuat lemah kontrol sosial (Social Control ) di sekelilingnya, lantaran penggunaan yang tanpa batas.
Kelompok anak dan remaja menjadi obyek sasaran yang paling rentan menjadi korban era globalisasi. Berkurangnya perhatian, pengawasan orang tua kepada anak semakin memperparah keadaan. Karena alasan ekonomi, orang tua secara tidak sengaja atau pun sengaja memposisikan anaknya menjadi korban globalisasi. Berbagai kasus asusila dan kriminalitas terjadi karena anak dan remaja terhimpit teknologi yang tanpa batas dan ekonomi keluarga yang kurang. Satu demi satu peristiwa kriminalitas yang berbau asusila hingga perdagangan manusia terjadi lantaran ketidakmampuan kita membendung masuknya budaya luar yang sangat kontradiktif dengan kearifan budaya lokal.
Menjadi pertanyaan, apa yang salah dengan negeri ini ?, apakah globalisasi ini tidak perlu ada ?, apakah sudah terjadi degradasi moral terhadap remaja, ataukah ada sistem pendidikan yang salah ?, atau agama sudah tidak lagi menjadi anutan masyarakat, lantas bagaimana kontrol sosial dari masyarakat sekitar, sehingga dimana-mana terjadi berbagai peristiwa yang memprihatin kita semua. Guna mencari jawaban dan solusi dari permasalahan ini, inisiasi kelompok 1 (satu) Sekolah Demokrasi Kota Batu menggelar workshop bertemakan Mengantisipasi Degradasi Moral Anak dan Remaja di Era Globalisasi pada 28 Juli 2010 di Pemkot Batu.  

1 komentar: