Tuesday, February 6, 2018

CERNAK

Pelangi di Kemuning
oleh: Agus Yulianto
Cernak ini pernah dimuat di koran Solopos, edisi 17 Desember 2017


https://pixabay.com/id/photos/gunung%20pelangi/

Sore itu hujan sudah reda. Raka, Ari dan Asep bermain di lapangan dekat rumah mereka. Suasana sore ini begitu menyejukkan setelah diguyur hujan sejak siang tadi. Mereka bertiga asyik bermain kejar-kejaran. Tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika melihat  keindahan yang ada di langit. Sore ini langit berwarna merah saga di hiasi lukisan pelangi.
            “Pelanginya indah sekali,” Raka begitu kagum melihat pelangi yang berwarna warni.
            “Iya, sangat indah,” begitu pula dengan Asep.
            “Coba perhatikan ada berapa warna pelangi itu,” tanya Raka kepada kedua temannya.
            “Ada merah, jingga, kuning, hijau dan biru,” jawab Ari seketika.
            Asep pun begitu asyik menikmati keindahan pelangi.
            “Kalian tahu tidak bagaimana terjadinya pelangi?”, tanya Ari dengan penuh rasa penasaran tentang terjadinya pelangi.
            “Aku tidak tahu,” Asep pun tersadar dari lamunannya menikmati keindahan pelangi.
            “Oya, besuk itu kan ada pelajaran IPA. Mungkin bisa kita tanyakan ke Pak Rudi,” jelas Raka kepada Ari.
            “Baik, coba besuk kita tanyakan ke Pak Rudi,” jawab Ari.
Mereka pun meninggalkan keindahan pelangi itu.  Mereka  melanjutkan kembali bermain di tanah lapang yang masih kelihatan becek, setelah seharian hujan mengguyur desa Kemuning.

*** 

            Nuansa pagi di desa Kemuning begitu sejuk. Kabut masih menutupi sinar sang mentari. Daun-daun masih bermandikan embun pagi. Warga desa Kemuning beraktivitas seperti biasanya. Ibu-ibu menyapu halaman rumah sedangkan Bapak-bapak persiapan pergi ke ladang. Anak-anak bersiap-siap ke sekolah. Tidak lain halnya dengan Raka, Ari dan Asep.
Mereka rumahnya bersebalahan. Setiap mau berangkat ke sekolah, mereka saling menghampiri satu sama lain. Jarak sekolah dengan rumah mereka tidak begitu jauh. Sekolahnya  terletak di belakang balai desa Kemuning. Mereka setiap pergi ke sekolah berjalan kaki, begitu juga dengan anak-anak yang lainnya. Desa Kemuning masih kelihatan asri. Nuansa pedesaan masih begitu kental. Meskipun desa mereka sudah menjadi tempat wisata yang banyak di kunjungi oleh turis domestik maupun luar negeri. Warganya masih mempertahankan ke asrian dan budaya tradisional di desanya. Karena itu merupakan salah satu daya pikat wisatawan.
Mereka bertiga sudah tiba di sekolah tepat pukul tujuh. Bel masuk berbunyi, anak-anak berbaris rapi  berdiri di depan pintu kelas untuk menyambut guru-guru yang akan mengajar. SD Kemuning selalu membiasakan murid-muridnya untuk disiplin dan tertib. Usai memberikan salam para murid di persilahkan masuk satu per satu dengan tertib dan rapi. Begitu juga dengan Raka, Ari dan Asep. Mereka kelihatan begitu rapi dan tertib.
Jam pertama merupakan jadwal belajar ilmu pengetahuan Alam bersama Pak Rudi. Ruang kelas lima begitu tenang. Anak-anak sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran IPA. Pak Rudi memberikan materi tentang peristiwa alam. Anak-anak begitu antusias mendengarkan penjelasan dari Pak Rudi. Peristiwa alam yang sedang dibahas adalah tentang fenomena hujan.
Pak Rudi meminta kepada anak-anak selalu menjaga kesehatannya di musim penghujan ini. Selain itu juga diminta menjaga kebersihan lingkungan di rumah mereka masing-masing. Usai menjelaskan materi Pak Rudi mempersilahkan murid-muridnya untuk bertanya kalau belum jelas dengan apa yang disampaikannya.
Raka pun tidak mau ketinggalan untuk mengajukan pertanyaan.
“Pak Rudi, Saya mau bertanya kenapa setiap habis hujan tiba-tiba muncul pelangi?”, tanya Raka.
Pak Rudi pun senang sekali ketika ada murid yang bertanya.
“Pertanyaan yang bagus sekali Raka. Begini Raka, pelangi itu merupakan peristiwa alam. Itulah anugerah dari Tuhan Yang Maha Agung. Dengan kehebatanNya segala sesuatu bisa terjadi kapan pun dan dimana pun.”
Semua anak-anak mendengarkan penjelasan Pak Rudi. Ada yang sambil menulis ada juga yang hanya cukup dengan mendengarkan.
“Pelangi itu terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfer. Tentunya kalian sudah paham apa itu atmosfer. Dulu saya pernah menjelaskan pada bab Tata Surya. Ketika sinar matahari melalui tetesan air, cahaya tersebut dibengkokkan sedemikian rupa sehingga membuat warna-warna yang ada pada cahaya tersebut terpisah,” Pak Rudi memberikan jeda sebentar, kalau mungkin ada pertanyaan dari murid-muridnya.
“Sebelum dilanjutkan, apa ada yang belum jelas,” tanya Pak Rudi.
Semua murid sudah paham mendengar penjelasan. Pak Rudi melanjutkan tentang proses terjadinya pelangi.
“Setelah itu setiap warna dibelokkan pada sudut yang berbeda,  dan warna merah adalah warna yang paling akhir dibengkokkan. Sedangkan ungu adalah warna yang paling utama. Peristiwa inilah yang dinamakan pelangi.”
“Bagaimana Raka? Apa sudah paham!,”
“Iya Pak, saya sudah paham,” jawab Raka.
“kalau yang lainnya bagaimana? Apa masih ada pertanyaan!,” tanya Pak Rudi kepada semuan murid-murid kelas lima.
“Pak, apa pelangi itu selalu muncul setiap habis hujan?”,  tanya Ari.
“Pelangi tidak selalu muncul setiap habis hujan. Belum tentu juga kalau habis hujan muncul pelangi. Itulah yang dinamakan fenomena alam. Munculnya bisa kapan saja.” Jelas Pak Rudi.
Ari pun mengangguk pertanda paham dengan apa yang dijelaskan oleh Pak Rudi. Suasana ruang kelas lima mulai rame usai pelajaran IPA. Bel tanda istirahat berbunyi. Pak Rudi menutup pelajaran IPA dan mempersilahkan anak-anak untuk beristirahat.

Anak-anak sangat senang sekali mengikuti pelajaran ini. Sebab mereka paham dengan fenomena alam yang sering dilihat. Begitu juga Raka, Ari dan Asep pertanyaan yang mereka simpan sore lalu akhirnya terjawab.


















           


Novel Terdahsyat Afifah Afra

Cinta Suci Adinda dan Tahun Kebangkitan Novel Indiva Keberadaan Penerbit Indiva sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan novel. Di a...