Saturday, May 7, 2016

Cerita Baper




Gara-gara Ayam Goreng
Oleh Agus Yulianto

            “Ada apa dengan ayam goreng?”, gara-gara ayam goreng inilah segala sesuatunya bisa berubah. Mulai dari yang rasa manis tiba-tiba menjadi asam. Cerita ini berawal dari sebuah kejadian yang sebenarnya tidak di sengaja tapi, bisa juga dikatakan sengaja. Kalau mood  kurang sehat bawaannya semua serba salah. Kalau segala sesuatunya sudah masuk kedalam hati. Awalnya dengan senyuman  manis bisa jadi kebalikannya menjadi senyum yang kecut. Aku bingung mau memulai cerita ini dari mana. Biar tidak meluncur tanpa arah, langsung saja aku mulai ceritanya. Tapi, kita kenalan dulu. Aku seorang guru di salah satu sekolah Islam terpadu di kota Boyolali. Meskipun asliku dari Kota IntanPari Karanganyar.
             Aku memiliki seorang sahabat, dia seorang cowok guru juga. Suatu ketika dia habis selesai menjadi pengawas try out ujian nasional tingkat Kabupaten di hari terakhir pelaksanaan ujian semua pengawas   dikasih nasi kotak. Awalnya sih aku tidak menghiraukan apa yang dia bawa. Cuek bebek, karena aku sudah sarapan nasi liwet yang barusan aku beli di pinggir bangjo. Perut masih kenyang. Kalau tak paksa-paksa takutnya perutku kelebihan muatan. Tau kan akibatnya kalau sampai kelebihan muatan. Hehehhe...pikir aja sendiri. Jangan jorok ya.
            Ketika dia menawari aku nasi kotak dengan lauk ayam goreng yang aduhai aku tolak dengan baik-baik. Saat itulah dia makan di depanku. Dengan lahap dan nikmatnya. Kayaknya nikmat banget pikirku. Aduh! Jadi kepengin untuk ikut nimbrung  makan ayam goreng. Minta tidak ya? Pikirku. Tapi, demi jaga image aku tahan diri ini. Sambil berdoa Ya Allah kuatkanlah imanku untuk menahan godaan kenikmatan ini.  Dia menawari aku lagi tapi, penolakan yang aku berikan. Sebenarnya diri ini kepingin. Nahh...gara-gara aku nolak pemberiannya. Akhirnya, ayam yang aduhai tadi di kasihkan kepada teman sebelahnya. Mereka berdua makan dengan lahapnya. Tanpa menghiraukan aku yang ada di depannya. Seolah-olah diriku hanya sebuah bayang-bayang semu. Cuek bebek aku di anggap tidak ada. Kasihan sekali ya aku.
            Aku hanya mengumpat dengan diri sendiri. Awas ya! Gara-gara ayam saja kau sudah melupakan aku. Ingat ! kalau loe butuh bantuan gue jangan harap batinku. Pokoknya di dalam diri ini adanya kesal melulu. Setelah selesai makan mereka langsung pergi. Tanpa pamitan lagi. Astaga! aku sudah dilupakan. Ngakunnya sahabat. Hanya gara-gara ayam goreng aku tolak kamu tega meninggalkan aku sendirian di kantor. Pokoknya hati ini rasanya jengkel melulu.
            Aku duduk di meja  kerjaku sambil mengerjakan tugas-tugas administrasi. Sejenak aku lupakan kejadian itu. Anggap saja semua ini apalah-apalah gitu. Sambil mengetik di depan laptob tiba-tiba sahabatku datang dengan membawa sebuah jus mangga. Seger banget. Aku berfikiran pasti jus itu buat aku. Tau tidak apa yang terjadi? Ternyata jus mangga buat wanita yang di ajak makan ayam goreng tadi. Wajahku sudah semakin hitam seperti wajan gosong. Tanpa pikir panjang aku labrak sahabatku tadi.
            “Kamu itu tega banget tow. Gara-gara aku tolak ayam goreng darimu. Teganya kamu melupakanku dalam waktu semenit. Ngakunya sahabat. Kamu itu tidak ada sedikitpun pengertian untukku. Lama-lama males aku sama kamu” pokoknya kemarahanku tidak bisa aku bendung lagi. Seperti lahar gunung berapi yang muntah secara tiba-tiba. Aku pun pergi meninggalkan dirinya.
            Aku menuju ke masjid untuk menenangkan diri. Supaya kemarahanku segera meredam. Handphoneku berbunyi ada sebuah pesan datang dari Whatshap. Ternyata pesan dari dia sahabatku tadi. Dalam pesan itu dia mengatakan minta maaf karena tidak peduli denganku. Dia juga tidak tahu kalau aku suka juga dengan jus. Aku pun masa bodoh dengan pesan itu. Akhirnya, aku mencoba untuk menenangkan diri dengan membaca al-Qur’an. Setelah itu aku mencoba merenung. Kenapa aku seperti anak kecil? Sedikit-dikit aku masukin ke dalam hati. Habis itu marah-marah tidak jelas. Aduhhh...kok aku kayak orang gila. Ya Allah ampunilah aku atas ketidak dewasaanku ini. Aku merasa bersalah dengan sahabatku tadi dan malu tentunya.

No comments:

Tulisan Disukai Pembaca

Mengulas Buku Fiksi Antologi Cerpen Amygdala

  Amygdala Sebuah Proses Kehidupan www.agusyulianto.com   Judul Buku : Antologi Cerpen FLP Jawa Tengah Amygdala Penulis : Rahman Hanifan, ...