Sabtu, 07 Mei 2016

Cerita Baper

 Nonton Bioskop

Liburan hari pertama di ajak nonton film captain america. Biasa anak muda. Ada cerita lucu nih: nonton ke the park dikira jadwal tayang jam 2. Ternyata setelah tiba disana pukul 15.20 jam tayangnya. Kita pun nunggu satu jam lebih. Tiba tiba perut kita keroncongan, mau makan di foodcourt takut harganya mahal
Akhirnya kita cari hek di mall atau g harganya setingkat hek. Kita memang g ada bedanya masa mahasiswa atau pasca mahasiswa levelitas kita hek, apakah setelah punya istri masih tetap hek? Lanjut cerita kita pun keluar dr mall. Setelah sampai diluar kita bingung cari hek. Adapun kita harus jalan jauh. Malas banget kalo jln jauh cuaca panas. Ambil motor di tempat parkir males juga nanti balik lg bayar lagi. Akhirny, kami memutuskan makan di food court masuk ke dalam lagi. Setelah sampai di foodcourt kita hati-hati memilih makanan disesuaikan dg anggaran yg se ngirit2nya. Akhirny kami pun dapat juga outlet yg harganya sesuai dg kantong kami. Makanan yg di pesen : nasi telur, nasi lele minumny air mineral. Nah saat itu kami bingung cari tempat duduk. Ada tempat duduk yg kosong tapi disamping kita ada 5 wanita blesteran arab saudi. Malu malu kucing akhirnya kami dudul dg lagak sok cuek. Mau selvi bareng gugup. Aduh sebuah moment yg terlewatkan. Makan usai terus kita menunaikan kewajiban bayar di cashier. dikasih tiga nota. Nota ini mau di apain kita celingak celinguk melihat kanan kiri kita. nota ini 1 buat kita, yang duanya ni buat siapa. yaudah kita tinggal di meja saja. aduhhhhh.....rempong banget ya makan di mall. 
Habis itu kita sholat usai sholat nonton deh. Kamipun masuk ke dalam bioskop di studio 3. Ternyata 5 wanita blesteran tadi jg nonton duduk paling depan sendiri. Kami ber 5 duduknya terpisah semuanya. Aq dapat yg di tengah paling pojok sendiri dan di sampingku ada sepasang muda mudi yg pacaran. Tiba2 aja cewekny nawari aq pop corn. Demi menjaga kredibilitasku tak tolak tawaran pop corn darinya. Khawatir cowokny cemburu. Film udah mulai diputar. Akhir dr sebuah tontonan bisa dikatakan kami sempat kecewa dg film tersebut
Alur cerita yg membingungkan dan ending yg mengambang. Kesimpulan dari cerita film captain america semua superhero kumpul reonian kemudian terjadi perpecahan 2 geng. 1 geng PNS dan 1geng swasta. Mereka di adu domba berkelahi deh...ceritany nggak banget pokoknya.

hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita mau keluar dari mall. Bingung jalannya aduhhhh......kupernya minta ampun. aq dah nunggu di luar parkir sampai satu jam lebih teman-temanku tidak pada keluar. yaudah aku tinggal pulang. Malam-malam aku pulang sendiri biasa penyakitku kumat. Aku bingung jalan arah pulang. ke sasar lagi deh.....

Cerita Baper




Gara-gara Ayam Goreng
Oleh Agus Yulianto

            “Ada apa dengan ayam goreng?”, gara-gara ayam goreng inilah segala sesuatunya bisa berubah. Mulai dari yang rasa manis tiba-tiba menjadi asam. Cerita ini berawal dari sebuah kejadian yang sebenarnya tidak di sengaja tapi, bisa juga dikatakan sengaja. Kalau mood  kurang sehat bawaannya semua serba salah. Kalau segala sesuatunya sudah masuk kedalam hati. Awalnya dengan senyuman  manis bisa jadi kebalikannya menjadi senyum yang kecut. Aku bingung mau memulai cerita ini dari mana. Biar tidak meluncur tanpa arah, langsung saja aku mulai ceritanya. Tapi, kita kenalan dulu. Aku seorang guru di salah satu sekolah Islam terpadu di kota Boyolali. Meskipun asliku dari Kota IntanPari Karanganyar.
             Aku memiliki seorang sahabat, dia seorang cowok guru juga. Suatu ketika dia habis selesai menjadi pengawas try out ujian nasional tingkat Kabupaten di hari terakhir pelaksanaan ujian semua pengawas   dikasih nasi kotak. Awalnya sih aku tidak menghiraukan apa yang dia bawa. Cuek bebek, karena aku sudah sarapan nasi liwet yang barusan aku beli di pinggir bangjo. Perut masih kenyang. Kalau tak paksa-paksa takutnya perutku kelebihan muatan. Tau kan akibatnya kalau sampai kelebihan muatan. Hehehhe...pikir aja sendiri. Jangan jorok ya.
            Ketika dia menawari aku nasi kotak dengan lauk ayam goreng yang aduhai aku tolak dengan baik-baik. Saat itulah dia makan di depanku. Dengan lahap dan nikmatnya. Kayaknya nikmat banget pikirku. Aduh! Jadi kepengin untuk ikut nimbrung  makan ayam goreng. Minta tidak ya? Pikirku. Tapi, demi jaga image aku tahan diri ini. Sambil berdoa Ya Allah kuatkanlah imanku untuk menahan godaan kenikmatan ini.  Dia menawari aku lagi tapi, penolakan yang aku berikan. Sebenarnya diri ini kepingin. Nahh...gara-gara aku nolak pemberiannya. Akhirnya, ayam yang aduhai tadi di kasihkan kepada teman sebelahnya. Mereka berdua makan dengan lahapnya. Tanpa menghiraukan aku yang ada di depannya. Seolah-olah diriku hanya sebuah bayang-bayang semu. Cuek bebek aku di anggap tidak ada. Kasihan sekali ya aku.
            Aku hanya mengumpat dengan diri sendiri. Awas ya! Gara-gara ayam saja kau sudah melupakan aku. Ingat ! kalau loe butuh bantuan gue jangan harap batinku. Pokoknya di dalam diri ini adanya kesal melulu. Setelah selesai makan mereka langsung pergi. Tanpa pamitan lagi. Astaga! aku sudah dilupakan. Ngakunnya sahabat. Hanya gara-gara ayam goreng aku tolak kamu tega meninggalkan aku sendirian di kantor. Pokoknya hati ini rasanya jengkel melulu.
            Aku duduk di meja  kerjaku sambil mengerjakan tugas-tugas administrasi. Sejenak aku lupakan kejadian itu. Anggap saja semua ini apalah-apalah gitu. Sambil mengetik di depan laptob tiba-tiba sahabatku datang dengan membawa sebuah jus mangga. Seger banget. Aku berfikiran pasti jus itu buat aku. Tau tidak apa yang terjadi? Ternyata jus mangga buat wanita yang di ajak makan ayam goreng tadi. Wajahku sudah semakin hitam seperti wajan gosong. Tanpa pikir panjang aku labrak sahabatku tadi.
            “Kamu itu tega banget tow. Gara-gara aku tolak ayam goreng darimu. Teganya kamu melupakanku dalam waktu semenit. Ngakunya sahabat. Kamu itu tidak ada sedikitpun pengertian untukku. Lama-lama males aku sama kamu” pokoknya kemarahanku tidak bisa aku bendung lagi. Seperti lahar gunung berapi yang muntah secara tiba-tiba. Aku pun pergi meninggalkan dirinya.
            Aku menuju ke masjid untuk menenangkan diri. Supaya kemarahanku segera meredam. Handphoneku berbunyi ada sebuah pesan datang dari Whatshap. Ternyata pesan dari dia sahabatku tadi. Dalam pesan itu dia mengatakan minta maaf karena tidak peduli denganku. Dia juga tidak tahu kalau aku suka juga dengan jus. Aku pun masa bodoh dengan pesan itu. Akhirnya, aku mencoba untuk menenangkan diri dengan membaca al-Qur’an. Setelah itu aku mencoba merenung. Kenapa aku seperti anak kecil? Sedikit-dikit aku masukin ke dalam hati. Habis itu marah-marah tidak jelas. Aduhhh...kok aku kayak orang gila. Ya Allah ampunilah aku atas ketidak dewasaanku ini. Aku merasa bersalah dengan sahabatku tadi dan malu tentunya.

Essay



Membumikan Pendidikan Akhlak


            Saat ini para orang tua sedang disibukkan memilih sekolah untuk putra-putrinya. Berapapun mahal biaya tidak dihiraukan asalkan putra putrinya mendapatkan sekolah yang memiliki nilai lebih di bandingkan sekolah pada umumnya. Nilai lebih yang dimaksud dalam hal ini yaitu sekolah yang tidak hanya mengutamakan akademik akan tetapi, lebih menekankan pada pendidikan akhlak. Mengapa demikian? orang tua tentunya sangat khawatir sekali melihat kondisi anak-anak saat ini. Sering kali kita melihat anak-anak yang berperilaku layaknya orang dewasa. Bisa jadi hal ini menjadikan orang tua khawatir. Lalu apa hubunganya dengan sebuah lembaga pendidikan?  Menurut penulis lembaga pendidikan sangatlah memiliki peran dalam pembentukan karakter anak. Banyak sekali sekolah yang menawarkan jasa sebagai lembaga pendidikan yang unggul dalam prestasi disetiap iklannya.  Namun, sedikit sekali lembaga pendidikan dalam setiap iklannya menawarkan pendidikan akhlak. Menurut Abdul Rahman Islam sangat mementingkan pendidikan akhlak (Muhammad AR, 2003). Salah satu ajaran Islam yang sangat penting adalah Akhlak. Pendidikan Akhlak merupakan segmen yang terpenting bagi manusia pada umumnya. Sebab yang namanya manusia itu merupakan orang yang punya tatakrama, sopan santun, dan beradab dalam setiap aktivitas sehari-hari selama manusia itu masih berjalan di muka bumi. Menurut Ismail Ibrahim (1994) Akhlak meliputi kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
            Ketika seorang manusia tidak lagi mengedepankan akhlakul karimah, maka pada saat itulah manusia memasuki wilayah kehewanan atau kebinatangan, dan sifat inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang.  Sesungguhnya hakikat pendidikan menurut kacamata Islam adalah menumbuhkan manusia dan membentuk kepribadiannya agar menjadi manusia yang sempurna, berbudi luhur dan berakhlak mulia. Sehingga menjadi pendorong baginya untuk berbuat kebaikan dalam kehidupannya dan menghalangi mereka dari perbuatan maksiat.
            Ketika seorang anak tidak pernah dibekali dengan pendidikan moral sejak kecil. Maka saya mengatakan bahwa anak tersebut lebih ganas dari serigala dan singa yang tidak pernah belajar tentang hak asasi manusia di sekolah mereka hutan belantara. Kalau kita sebagai orang tua menyadari bahwa krisis moral yang melanda pada kurun waktu ini telah mencapai puncaknya. Akibatnya terjadilah pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
            Pendidikan moral tidak mengenal batas waktu dan tempat. Islam adalah agama moral dan akhlak. Agama Islam adalah agama moral. Oleh karena itu barangsiapa yang menganut dan menjalankan perintah agama Islam dengan sempurna maka orang itu dianggap memiliki akhlak yang bagus. Rasulullah saw pernah bersabda:”Yang paling baik Islamnya seseorang di antara kamu sekalian adalah mereka yang paling baik akhlaknya seandainya mereka mengerti.” Hadits tersebut memberikan gambaran bahwa tidak semua orang Islam itu baik akhlaknya dan kalau kita tidak betul-betul mau melaksanakan segala ajaran Islam secara kaffah, maka kita dianggap orang yang tidak berakhlakul karimah. Orang yang berakhlak mulia itu adalah orang mukmin dan setiap orang mukmin tersebut sudah otomatis berakhlak mulia.  Memang untuk mencapai taraf kemuliaan akhlak bukan suatu hal yang mudah. Hal ini diperlukan kerjasama antara orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah.
            Era globalisasi yang tengah berlangsung di era saat ini seolah-olah ingin mengesampingkan seluruh tatanan moral. Perkembangan teknologi begitu pesat. Tontonan atau hiburan yang sering kita lihat di televisi kadang tidak memberikan dukungan kepada anak-anak kita. Bahkan bisa dikatakan, merusak moral anak-anak kita. Seringkali kita melihat tayangan sinetron di televisi yang memberikan sajian-sajian yang vulgar. Setiap hari menjadi santapan anak-anak kita. Hal ini seharusnya menjadi bentuk rasa keprihatinan kita sebagai orang tua. Bahwa perkembangan teknologi tidak selamanya membawa dampak yang positif untuk anak-anak.  Puncak kerusakan moral moral yang sedang melanda bangsa ini semakin kompleks. Ini terlihat pada hubungan antara sesama guru seperti teman kencan, anak-anak SD sudah berani melakukan sex bebas (free sex),  hubungan guru dan murid seperti teman tapi mesra, hubungan orang tua  dengan anak yang semakin jauh dari nilai-nilai moral.  Selain itu hubungan antara masyarakat dengan pemerintah seperti domba dan serigala,  ulama dan penguasa selalu berada dalam kecurigaan.  Itulah realitas yang terpampang saat ini. Realitas yang ada saat ini adalah orang tua hanya bertugas melahirkan anak, guru mengajar hanya karena gaji bulanan, pemerintah hanya memikirkan pembangunan infra-struktur dengan sekian persen komisi.  Sementara akhlak anak-anak mereka semakin hari semakin luntur. Dampaknya munculah yang namanya penyakit masyarakat.
            Untuk mewujudkan sebuah komunitas bermoral maka sebagai orang tua harus dapat menjadi pihak yang pertama dalam memasukkan pendidikan akhlak di dalam keluarga. Guru dalam batas-batasan tertentu harus menunjukan sikap keikhlasan dalam menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah dalam setiap pembelajaran. Tugas guru di sekolah bukan hanya menjalankan aktivitas pendidikan di sekolah. Akan tetapi, bertanggung jawab pula terhadap perbaikan moral murid di manapun berada. Guru bukan saja seorang pemimpin dan pendidik di dalam kelas, akan tetapi sebagai tempat rujukan siswa-siswanya dalam menyelesaikan masalah pelajar itu sendiri. Oleh karena itu, peran orang tua  di dalam rumah tangga dan para guru di sekolah merupakan suatu keharusan dalam rangka mempedulikan akhlak para anak-anaknya.
            Betapa pentingnya peran lembaga pendidikan saat ini terhadap perkembangan moral anak. Tidak hanya sekedar unggul dalam prestasi. Seharusnya lembaga pendidikan lebih mengutamakan keunggulannya dalam pendidikan akhlak. Pandai-pandailah sebagai orang tua dalam memilih lembaga pendidikan untuk masa depan anak-anak kita.
  *dimuat di harian umum Joglosemar

Essay



Buku Masa Depan Anak
Oleh: Agus Yulianto*
Peminat Pendidikan Anak

            Beberapa waktu lalu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengendus peredaran komik yang berisi tentang cerita cinta sesama jenis atau lebih dikenal dengan Homoseksual yang telah beredar di toko buku. Buku yang diterbitkan oleh salah satu penerbit yang terkemuka di Indonesia ini sungguh sangat mencederai dunia perbukuan khususnya buku tentang anak. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan khusunya bagi para guru ataupun orang tua sendiri ketika dalam memilah buku bacaan anak . Seperti diketahui bahwa didalam diri seorang anak mempunyai potensi yang terpendam yang memiliki sejuta harapan dikemudian hari akan mengisi segala sektor di setiap bidang. Jangan sampai kita mencederai mereka dengan bacaan yang tidak mencerdaskan hanya demi meraup keuntungan semata!
            Seperti yang kita ketahui seorang anak belum dapat memilih bacaan anak yang baik untuk dirinya sendiri. Anak akan membaca apa saja bacaan yang ditemui tidak pedulikan cocok atau tidak untuknya karena memang belum tahu. Agar anak dapat memilih bacaan yang sesuai dengan perkembangan ke-dirian-nya, sebagai orang tua atau guru harus peduli dengan memberikan konsumsi buku bacaan yang tepat. Namun demikian, pemilihan bacaan anak haruslah tidak dilakukan secara serampangan atau berdasarkan selera subjektif dan kacamata orang dewasa. Bagaimanapun yang berkepentingan dalam hal ini adalah anak, maka kebutuhan anak harus menjadi kriteria pertama yang dijadikan pegangan. Pemilihan bacaan harus mempertimbangkan hal-hal tertentu yang telah diakui ketepatannya dan dapat dipertanggungjawabkan.
            Anak yang berstatus bayi mulai belajar bahasa lewat bunyi dan ucapan-ucapan yang didengarnya dari sekelilingnya. Pada mulanya anak tidak dapat membedakan bunyi-suara manusia dengan bunyi-bunyian yang lain, tetapi lama-kelamaan mampu membedakannya. Kenyataan bahwa seorang bayi berada dalam kondisi yang amat rentan dan tidak berdaya, bahkan terhadap kelangsungan hidupnya sendiri, tidak dapat berbuat apa pun tanpa bantuan orang lain, tetapi dapat belajar berbahasa sungguh merupakan sebuah keajaiban. Apalagi dalam waktu yang relatif singkat, yaitu hanya beberapa tahun, anak sudah mampu berbahasa, mampu menguasai bahasanya sendiri, suatu hal yang hampir mustahil terjadi pada diri orang dewasa. Oleh karena itu, orang kemudian mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi dalam diri anak yang diibaratkan sebagai kota hitam (black box) itu, yakni sesuatu yang menunjukan adanya unsur ketidakterpahaman tentang apa yang terjadi. (Burhan Nurgiyantoro, 2005: 59).  Implikasi dari pemahaman terhadap proses pemerolehan bahasa anak tersebut bagi pemilihan buku bacaan anak,  yakni dalam pemilihan bacaan anak itu mestinya didasarkan pada materi yang dapat dipahami anak, yang dituliskan dengan bahasa yang sederhana sehingga dapat dibaca dan dipahami anak.
            Untuk itu, kita harus berfikir kritis memilihkan bacaan cerita anak yang sesuai dan efektif buat anak, bacaan yang baik dan sengaja ditulis untuk konsumsi anak-anak. Hal itu berarti bahwa kita, guru dan atau orang tua, haruslah memahami struktur dan bentuk buku bacaan, sebagaimana halnya kita memahami perkembangan cara berfikir anak, perkembangan emosional, sosial, dan bahasa, serta perubahan kriteria kemenarikan. Singkatnya, kita haruslah mempunyai kemampuan untuk memilih secara tepat bacaan-bacaan yang dimaksud dengan mempergunakan kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.
            Persoalannya kini adalah tema dan moral apa yang baik untuk buku-buku anak? Dewasa ini memperoleh bacaan anak amat mudah. Di toko-toko buku tersedia amat beragam dan banyak buku bacaan anak yang disediakan pada rak-rak khusus. Buku-buku bacaan anak yang dimaksud terdiri dari berbagai genre, baik yang merupakan karya asli berbahasa Indonesia maupun karya-karya terjemahan, atau karya yang terdiri dari dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Buku-buku tersebut banyak yang sudah menunjuk dirinya untuk dipakai pada anak usia tertentu atau kelas tertentu sehingga kita tinggal memilih sesuai dengan keadaan anak yang akan diberi bacaan itu. Untuk bacaan anak usia awal sekolah pun banyak buku-buku bergambar yang ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Misalnya, buku Knowing ABC, Mengenal Huruf sambil mewarnai (usia 5-6 tahun) karya Mondy Risutra yang berisi gambar-gambar binatang dan aktivitas tertentu. Dengan demikian, lewat buku dan bantuan kita, anak sekaligus dapat belajar bahasa Inggris secara langsung dalam konteks bacaan cerita yang menarik.  Buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia, selain yang merupakan karya kreatif, dalam arti karya asli para pengarang yang bersangkutan, juga banyak beredar buku-buku kumpulan dongeng dari berbagai pelosok tanah air di Indonesia. Misalnya buku-buku kumpulan dongeng berjudul Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan Cerita Rakyat dari Surakarta, keduanya merupakan karya Bakdi Sumanto. Sedangkan dalam kelompok buku terjemahan yang saat ini sedang bagus di pasaran seperti buku serial novel Harry Pooter  karya J.K Rowling, Buku serial  Goosebumps karya R.L Stine yang mengalir terus tidak ada habisnya. Demikian juga halnya dengan buku-buku komik impor yang tidak kalah meriah dan membanjirinya di berbagai toko, yang bahkan juga tersedia di toko-toko yang bukan toko buku, misalnya di mini market. Semua buku cerita tersebut menjanjikan cerita yang menarik, menjanjikan  petualangan yang imajinatif anak yang mencekam dan memuaskan.
            Hal itu belum lagi kita memperhitungkan bahwa berbagai surat kabar harian pun kini banyak yang menyediakan kolom  atau rubrik dunia anak. Demikian pula halnya dengan majalah. Bahkan, kini juga relatif banyak majalah yang sengaja diterbitkan khusus untuk dikonsumsikan kepada anak, misalnya majalah Bobo, Anak Sholeh, TK Islam, Ananda, dan lain-lain. Bahkan cerpen-cerpen (dongeng)  yang dimuat di majalah anak-anak kini juga diterbitkan ulang dibuat dalam bentuk antologi cerita anak.
            Artinya, dewasa ini anak-anak kita benar-benar dimanjakan dengan ketersediaan bacaan anak-anak demikian banyak pilihan bacaan yang beragam. Buku-buku tersebut, terutama yang berbentuk majalah, atau yang berupa kolom di surat kabar, pada umumnya tidak hanya memuat cerita-cerita, melainkan juga berisi berbagai hal penting yang perlu diketahui anak untuk memperkaya wawasan yang sengaja ditulis dengan kacamata anak yang berwujud tulisan-tulisan nonfiksi. Akhirnya juga harus dikemukakan bahwa sebenarnya tidak banyak anak Indonesia yang mempunyai kesempatan dimanjakan dengan berbagai buku anak. Anak-anak yang tinggal di pelosok atau daerah yang terpinggirkan, akan kurang dapat menikmati limpahan buku-buku berharga itu. Oleh karena itu, pihak sekolah atau lembaga yang terkait, yang peduli dengan anak dan masa depan mereka, yang notabene adalah aset bangsa  di masa depan, haruslah bersedia berkorban mengusahakan buku bacaan anak yang tepat dan mencerdaskan bukan, merusak moral. Selain itu, para penerbit dan toko-toko buku harus benar-benar menyeleksi buku yang masuk sesuai dengan budaya kita.
Dengan buku-buku inilah anak-anak layaknya seperti manusia dewasa pada umumnya dibantu untuk memahami dunia sekitar.Pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca ini akan menjadi bekal mereka dimasa yang akan datang. Tugas kita mengarahkan dan mengajak serta memberikan contoh kepada mereka untuk membaca dan membaca. Seperti itu!