Senin, 16 Februari 2015

Lomba Resensi Buku FLP



Laskar Anak Pintar Buku Layak Anak

Judul Buku          : Laskar Anak Pintar
Penulis                 : Andri Saptono
Halaman              : 128
Penerbit               : Indiva Media Kreasi, 2013
ISBN                   : 9786021614006
Tebal                    : 124 hal
Harga                   :18.500,-

                Seperti yang kita ketahui seorang anak belum dapat memilih bacaan anak yang baik untuk dirinya sendiri. Anak akan membaca apa saja bacaan yang ditemui tidak pedulikan cocok atau tidak untuknya karena memang belum tahu. Agar anak dapat memilih bacaan yang sesuai dengan perkembangan ke-dirian-nya, sebagai orang tua atau guru harus peduli dengan memberikan konsumsi buku bacaan yang tepat. Namun demikian, pemilihan bacaan anak haruslah tidak dilakukan secara serampangan atau berdasarkan selera subjektif dan kacamata orang dewasa. Bagaimanapun yang berkepentingan dalam hal ini adalah anak, maka kebutuhan anak harus menjadi kriteria pertama yang dijadikan pegangan. Pemilihan bacaan harus mempertimbangkan hal-hal tertentu yang telah diakui ketepatannya dan dapat dipertanggungjawabkan.
            Untuk itu, kita harus berfikir kritis memilihkan bacaan cerita anak yang sesuai dan efektif buat anak, bacaan yang baik dan sengaja ditulis untuk konsumsi anak-anak. Hal itu berarti bahwa kita, guru dan atau orang tua, haruslah memahami struktur dan bentuk buku bacaan, sebagaimana halnya kita memahami perkembangan cara berfikir anak, perkembangan emosional, sosial, dan bahasa, serta perubahan kriteria. Singkatnya, kita haruslah mempunyai kemampuan untuk memilih secara tepat bacaan-bacaan yang dimaksud dengan mempergunakan kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.
            Persoalannya kini adalah tema dan moral apa yang baik untuk buku-buku anak?           Novel anak yang berjudul Laskar Anak Pintar merupakan gambaran kisah petualangan seorang bocah yang bernama Maman, Lukman, Daud, Iqbal dan Sholeh. Mereka berlima hidup disuatu daerah pedesaan yang jauh dari keramaian kota. Maman adalah satu tokoh di antara lima sekawan yang tidak sekolah karena bapaknya yang hanya buruh serabutan, tak mampu menyekolahkan. Padahal, Maman sebenarnya sangat ingin sekolah, memakai baju merah putih.
Tokoh yang satunya bernama Sholeh merupakan anak yang cerdas, pandai dan selalu mendapatkan beasiswa. Tidak ketinggalan Daud, Iqbal dan Lukman mereka semua sama berasal dari keluarga yang sederhana. Mereka merupakan sahabat yang sejati, meskipun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Didalam buku ini kita dapat belajar dari seorang anak kecil yang memiliki kepedulian  yang baik untuk lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka anak yang berasal dari keluarga miskin dan sederhana, namun dibalik itu semua mereka mampu menjadi pahlawan kecil di daerah tempat tinggal mereka. Berbagai permasalahan di kampungnya mampu mereka hadapi dan selesaikan bahkan solusipun mereka berikan kepada orang dewasa. Hal ini mengingatkan bahwa anak kecil saja bisa berbuat kebaikan, apalagi kita sebagai orang dewasa selayaknyalah harus bisa lebih baik.
Penulis mengisahkan Maman sebagai seorang anak yang tidak menempuh pendidikan Sekolah dan Sholeh merupakan seorang anak yang menempuh pendidikan atau anak sekolahan.  Hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk mereka berdua. Biarpun berbeda status sosial ekonomi mereka, rasa kepedulian tetap ada didalam diri mereka. Sikap saling tolong menolong, menghormati sesamanya, serta rasa ingin menegakkan agama dengan cara yang mereka lakukan sungguh sangat mengesankan dan bisa dapat di jadikan contoh untuk anak-anak di era sekarang yang sudah mulai terkikis dengan budaya cyber. Sikap-sikap seperti inilah yang seharusnya di ajarkan kepada anak-anak kita. Betapa pentingnya sikap saling menghargai satu sama lain meskipun berbeda status sosialnya. Rasa kasih sayang sesama teman begitu kentalnya penulis membubuhkan dalam buku serial Laskar Anak Pintar ini. Dengan buku-buku inilah anak-anak layaknya seperti manusia dewasa pada umumnya dibantu untuk memahami dunia sekitar.Pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca ini akan menjadi bekal mereka dimasa yang akan datang. Tugas kita adalah mengarahkan dan mengajak serta memberikan contoh kepada mereka untuk membaca dan membaca. Buku ini merupakan salah satu buku yang layak untuk di baca anak-anak. 


Pengirim
Nama Agus Yulianto, S.Pd.I
Pengurus FLP Soloraya
Alamat : Dusun Ngemplak RT02/02, Suruh Tasikmadu Karanganyar Surakarta
No HP 085726957133.



Kamis, 05 Februari 2015

Antologi Puisi FLP Solo Raya 2015 bersama Yuan Lawu



Sajak Abdul Wakhid

Menagih Janji 98
Kulihat jejak-jejak masa lalu
Menghampar setapak jalan menuju 98
Bumi Indonesia bersorak air mata
Tragedi jendral tua turun tahta.
            Kepalan amarah,
            Teriakan penderitaan,
Seruan melawan perubahan kekuasaan, 
            Membakar hati sanubari tuk melawan rezim berkuasa.          
REFORMASI!
Katanya ada kebebasan ngomong,
Katanya Indonesia lebih sejahtera,
Mana janji bualan tokoh reformasi,
Bumi pertiwi kian nangis karena salah reformasi,
Lalu kemana kau tokoh reformasi?
            Reformasi,
Jeritan korupsi menusuk relung hati rakyat kolong jembatan
Jeritan moral mencabik-cabik bunda pertiwi
Jeritan nanar anak pedofilia membakar jiwa dan raga bangsa
Kemana tokoh reformasi 98?
Kini, ku tagih janjimu tentang reformasi.
Kentingan, 3/6/14

 
 
Renungan di Tengah Hujan

Angin kencang mulai menerjang
Hujan gerimis berubah deras
Para pemancing berhamburan tuk berteduh
Waduk pun berubah sepi
            Tapi dipinggir waduk
Hanya tinggal seorang pemuda pengendara vespa
            Ia termenung ditengah derasnya hujan sore itu
            Ia termenung tuk meratapi nasib
Tapi bukan nasib diri atau keluarganya
Melainkan nasib bangsanya
            Pemuda dinegri ini mau lupa
Akan moralnya
            Orang tua dinegri ini hampir lupa
Tentang tanggungjawabnya
            Putra-putri dinegri ini akan lupa
Pada hakikat baktinya
            Penguasa dinegri ini telah lupa
Dengan amanah mereka
Dan pemuda itu kelak adalah pemimpin bangsa Indonesia bukan pemimpi bangsa Indonesia.
Karanganyar/14

 
 
Sajak Ardiarti Bangun Wijaya

Bulan Hitam, Bulan Putih


Bulan hitam
Kaki terseret-seret datang
Mengaduh pada terik
Mengeluh pada rintik
Lampu merah mereka melirik
Koin-koin masuk bilik

Kaki terseret-seret pergi
Gerutu marah bersatu padu


Bulan putih
Kaki terseret-seret datang
Lampu merah mereka melirik
Tak terhalang terik
Tak terhalang rintik
Lembar- lembar masuk bilik

Kaki berlari pergi
Beribu rupiah bersatu padu


Bulan hitam, bulan putih
Kisah kami, pegawai lampu merah.

                                                                 Sragen, 25 Januari 2015










Sajak Aya Emsa

Badai Debu

Kau mungkin lupa
Sosok-sosok tubuh  diterpa debu
Mengais  keping-keping
Bertahan menyambung hidup
Jentikkan jari
Di atas gitar tua rapuh yang usang
Pukulan ringan tutup botol
Di atas telapak yang keras oleh kehidupan
Suara yang parau
Perut yang kosong sejak kemarin
Wajah-wajah yang kusut kusam,
Mata yang sayu
Kulit yang kasar berbedak debu
Kaki-kaki gontai,
Berjalan dan melompat dari satu bus
Kepada bus
Tertampar badai debu jalanan
Tersenyum pada pakaian lusuh
Ramah bersama kesulitan
Berteman  kenestapaan
dan kesedihan..

Kau pasti lupa
Tersenyum di balik jendela kendaraan
Sibuk menggesek layar
Tertawa kepada entah siapa di alam maya
Di dompetmu penuh lembaran merah
 dompetku kering bersama kepingan receh
Kau tutup rapat jendelamu saat ku mendekat
Kau lambaikan tangan tanda tolak
Kau pasti lupakan,
Dalam harta yang kau punya
Ada pula jatah kami,
Orang-orang  mengais hidup dengan bermandi
Badai debu
….
Karangpandan, 28 Oktober 2013




Dunia Maya

Maya punya dua dunia,
Nyata dan tidak nyata
Tapi ia senang pada yang kedua
Tersenyum-senyum sendiri ia dibuatnya
Lupa pada fakta
Kanan-kiri ada puluhan manusia
Namun, seolah ia sendiri saja

Maya punya dua dunia,
Nyata dan tidak nyata
Sibuk sekali ia dibuatnya
Mengalahkan semua wujud di depan mata
Sedangkan realita?
Bahkan tidak tampak ada
Dikalahkan oleh yang tidak nyata
Menunduk terpaku mengamati sebuah benda
Kata nenek, memang itu apa?

Maya punya dua dunia,
Nyata dan tidak nyata
Berkumpul bersama
Tak terasa ada jiwa
Dulu, ketika kami pergi berdua
Perjalanan kami penuh rangkaian cerita
Namun kini, komunikasi menjadi tak semestinya
Tak didengarnya nenek bertanya
Kecuali hanya sekilas lalu lewat telinga
Adab budaya entah kemana
Dia bukan lagi Maya yang lama
Bersama teknologi, dia berubah, berbeda
Seolah kami, kini hidup di alam yang tak sama
Dunia Maya memang dunia maya..
Colomadu, 27 January 2015


  
Sajak Dian Uswatun H

Titik-Titik Noda
                                                                                              

Lingkaran setan yang sepertinya memang tak akan pernah berakhir
Hidup di tengah-tengah manusia munafik
Aku menyebutnya sebagai “Manusia-Manusia Tanpa Rupa”
Mereka tak pernah lelah berhenti
Mengais setiap sisi, setiap celah
Adakah lorong-lorong hitam yang masih bisa dimasuki?
Mulut-mulut mereka seperti tak pernah tersentuh Tuhan
Hati mereka terlihat putih, bersih, menutup kepalsuan
Adakah hal lain yang bisa mereka lakukan selain menuruti setan?
Segerombolan makhluk yang merasa dirinya lebih mulia padahal sebenarnya hina
Lingkaran itu begitu kokoh, hingga malaikat pun tak kuasa untuk menembusnya
Dan ego tetap berdiri di atas segalanya
Aku rindu jiwa-jiwa yang bersih
Tapi titik-titik noda itu tetap ada, bagaikan hiasan
Titik-titik noda di tengah –tengah tempat suci ini
Aku bertanya pada Tuhanku
Mengapa aku harus selalu meluangkan waktu untuk mengutuki mereka?
Pada akhirnya aku seperti mengutuki diriku sendiri
Mengutuki kebencianku waktu ini, yang mewajibkanku untuk membenci

                                                                                            Senin, 09 Juli 2012


Pada Suatu Sudut Kota Solo

Menyusuri jalan ini
Ketika sang surya masih saja membagikan pesonanya
Yang begitu memancar
Dengan berjuta jiwa yang berdiri di atas keegoisannya
Apa yang sedang mereka cari?
Masih aku tatap “menara” yang menjulang tinggi, dengan keegoisan yang sama.
Ia biarkan berjuta-juta jiwa menghamba padanya
Mencari apa yang tak perlu dicari
Karna di balik mereka, ada senyum-senyum mengembang
Di atas kemenangannya, di atas keegoisannya
Aku biarkan diriku berpaling
Biarlah mereka tetap dengan keegoisannya

Panas masih tetap menyapa
Ketika aku bertemu sebuah sudut
Lepas dari hingar-bingar mereka yang asyik menghamba
Sudut ini juga tetap menghamba, pada tuan yang tak lagi sama
Menghamba pada hidup
Pada kesempatan yang seolah terelakkan
Pada setetes embun yang menghilangkan sedikit dahaga
Pada semilir angin yang mampu menyejukkan jiwa
Pada udara yang masih dapat terhirup

Pada sudut itu
Ia menari di atas keletihannya
Keletihan yang bukan sebatas raga,
Pun jiwanya merasa letih
Pada waktu yang terus saja berlari mengejarnya
Mengejar angan yang tak kunjung sampai pada tujuan
Namun di balik keletihan itu
Semburat semangat masih saja mampu terlihat
Di antara garis-garis wajahnya yang terlihat sangat jelas
Ia, perempuan itu, masih saja tak lelah mengais
Mengais setiap sisa-sisa kesempatan
Apa yang ia cari dalam keletihannya?
Setetes hidup

Pada sudut itu, sudut yang berbeda…
Ada apakah gerangan dengan dia?
Seorang lelaki tua, terlarut dalam kesendiriannya
Membungkus muka dengan kedua tangannya yang juga tua
Kulitnya terkikis sedikit demi sedikit
Siapakah yang telah mengulitinya?
Ia seakan malu
Malu menatap dunia yang tak pernah berhenti menertawakannya
Menertawakan setiap tulang-tulang tubuhnya yang begitu terlihat
Menertawakan hidup yang belum juga mau memberinya kesempatan
Pada titik-titik jari tangannya
Aku masih saja mampu melihat
Mata tua yang terlihat redup
Lelah…tak bergairah…
Seperti anak muda yang baru saja kehilangan kekasih, tersisih…
Apa yang ia cari dalam kesendiriannya?
Setetes hidup

Pada sudut itu, sudut yang berbeda…
Sekumpulan jiwa-jiwa yang aku yakini masih putih
Tertawa riang di sela-sela keisengannya
Benarkah mereka iseng? Ah…itu bukan iseng
Mereka juga meraba sedikit kesempatan
Kesempatan yang seharusnya bukan mereka yang mencari
Tapi mengapa mereka harus kuat berdiri?
Di atas hitamnya hari
Dan aku tak sanggup menahan
Ketika jiwa putihnya pada akhirnya harus bercampur dengan hitamnya hari
Yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya, pada nasib yang semoga berubah
Apa yang mereka cari dalam keceriaannya?
Setetes hidup


Dan waktu terus berlari dan berlari
Akankah roda itu terus berputar,
Memberikan kesempatan bagi jiwa-jiwa yang merasa kalah?

Lalu, apa yang sudah kita berikan, ketika lapar tertutup kenyang?
Apa yang sudah mereka dapatkan, ketika kantuk tak lagi menyiksa, demi menutup lapar dengan kenyang?
Hingga pada detik-detik ketika kemenangan masih terasa, untuk siapakah kemenangan ini?
Ia hanya milik kita, bukan mereka
Karena kemenangan ini di atas kekalahan mereka
Jiwa yang terlihat kalah…
Semoga nurani mereka masih merasakan hangatnya kemenangan,
Karena mata ini tak pernah sanggup meraba nurani

(8 Syawal 1431 Hijriyah, saat hari kemenangan masih terasa dan masih menyapa)



 




Sajak Hidayatul Hasanah
DI KOTA

Di kota besar teriakan membuncah
Mati lampu!
Di kota kecil teriakan sayup mengalun
Tak ada aliran lampu
Negeriku beragam bukan?

Di kota besar duduk bersimpuh datang rupiah
Berbekal ucapan lirih
Di kota kecil memeras keringat tanpa lelah
Berbekal tenaga yang kian ringkih
Inikah sosok negeriku?

Di kota besar waktu kian memburu
Anak seolah urusan babu
Di kota kecil waktu adalah rindu
Kebersamaan menyatu dalam satu kalbu
Inikah secuil kepingan negeriku?

                                                                                                 Kartasura, 30 Januari 2015


















       Sajak Intan Nur Cahyati
 
          Pedagang Kaki Lima

Dua orang pedagang kaki lima
Kepalanya pecah terbelah berleleran darah
Di awal tahun yang langitnya indah berwarna kuning, biru, dan merah
Katanya digebug satpol pp gagah
Sebab berjualan kesana kemari tak tahu arah

Dua orang pedagang kaki lima
Limbung terengah-engah
Menyeret-nyeret dagangan yang hendak dijarah
Bukanya ingin jadi rakyat yang tak taat pemerintah
Tapi bagaimana lagi?
Darisanalah diperoleh rupiah

Dua orang pedagang kaki lima
Berlari meraung-raung seolah tak penuh isi otaknya
Mencerca, mengecam, mengumpat hingga robek mulutnya
Pun tak digubris adanya
Hingga menganga kepalanya
Tetap tak ada artinya

Pedagang kaki lima tetap pedagang kaki lima
Tetap harus disingkirkan dari ibu kota
Apalagi adanya
Hanya seperti jamur yang mengotori pengajian dan konser akbar tahun baru ibukota saja

Hah dasar pedagang kaki lima

Penertiban pedagang kaki lima dipintu Monas 31 Desember 2014 sore
Sala, 1 Januari 2014
















Gadis Sepeda Mini

Memang kuamati
Gadis kecil dengan atasan putih dan sepeda mini
Memperhatikan kami, aku dan ibu
Tak berkedip dan sesekali nafasnya terhenti
Bola matanya bening
Hidungnya mbangir
Tangannya mengenggam plastik es teh kecil
Bajunya lusuh
Aku tahu dia datang menunggang sepeda mini
Sepeda mini warna merah berkeranjang besi
Sandal jepitnya bertali rafia
Dan kulihat ada beberapa luka
Rautnya hanya seperti iri
Aku ingin bertanya tentangnya
Tentang gadis kecil dan sepeda mini
Kutarik ujung atasan ibuku
Kuajak menghampiri gadis itu
Kurendahkan badanku,
Setapak kakinya melangkah
Langkah lawan arah depan
Mungkin dia takut
Tak mengapa
Ku sapa
Gadis kecil dimana ibumu ?
Ibuku Seorang Pelacur..
                                                        2013










Sajak Suparto
MUSLIHAT

Orang-orang melarat
Yang hidupnya sekarat
Tak punya martabat
Tersingkir di tengah masyarakat

Nasib mereka jadi perhatian
Diperebutkan politisi karbitan
Dengan sogokan dan janji murahan
Raih kursi anggota dewan

Kini cita-cita ditangannya
Sumpah janji diucapkannya
Sebutan terhormat disandangnya
Fasilitas melimpah didapatkannya

Namun tipu muslihat dijalankan
Buat menutup hutang milyaran
Membungkus segala kebusukan
Persetan dengan kritikan

Anggota dewan dan birokrat
Tiap hari adakan rapat
Dengan dalih angkat kaum melarat
Cari sepakat tapi dengan syarat

Birokrat ajukan anggaran
Tapi jangan lupa nasib dewan
Yang butuh perhatian
Untuk amankan kebijakan

Birokrat kelabakan
Bagaimana bikin angka siluman
Biar luput dari jeratan
Berkelit berlepas tangan

Oh, politisi  keparat
Tak pantas sebutan terhormat
Jadikan rakyat melarat
Kesrakat sampai sekarat.

                                                                           Sragen, 30 januari 2015


Sajak Trimanto B. Ngaderi

Pengabdian Palsu

Banyak,
Banyak,
Banyak ...

Berdzikir di setiap saat
Bershawalat di setiap tempat
Tilawah tanpa waktu tenggat
Shalat lail tanpa mengenal penat

Tapi ...
Semua hanyalah kekosongan
Semua hanyalah pengulangan
Semua hanyalah pentradisian

Bagaimana elok tanpa penghayatan
Bagaimana agung tanpa pemaknaan

Engkau selalu mengejar banyaknya
Engkau selalu mementingkan hitungannya
Tiada lagi seni dan irama
Tiada lagi tajwid dan makhrajul huruf

10 kali, 100 kali, 1000 kali
Sekian kali

Dan ...
Aku menyangsikan atas semuanya










Sajak Niken Subekti
Bait Rasa Asasi

Dalam bait rasa asasi
Petinggi – petinggi negeri beraksi
Bernaung di bawah nama instansi
Mengatasnamakan kebenaran tanpa ilusi
Katanya demi wujudkan mimpi reformasi

Dalam bait rasa asasi
Nyatanya gemuruh dari televisi
Membahana suguhan dramatisasi
Siang malam rakyat konsumsi
Ada apa dengan KPK Vs POLRI ?

Dalam bait rasa asasi
Lantas rakyat bertanya dari hati
Sungguhkah itu untuk kami ?
Atau hanya demi nafsu pribadi ?
Sampai kapan drama ini ?
Kemana presiden Jokowi ?

Dalam bait rasa asasi
Kami butuh fakta bukan janji
Kami hanya inginkan aman di negeri sendiri
Dengarkan rintih kami wahai petinggi
Dari rakyat yang tak mampu basa basi

Pena Ndeso
Sragen_28 Januari 2015











Kami Anak siapa ?

Sungguh ironi….
Luka menganga di fisik ini
Bukti kebengisan seorang yang katanya ayah kami
Luka menggerogoti batin ini
Bukti kebiadaban seorang yang katanya ibu kami
Dengungkan pada kami yang kecil ini
Apa kasih sayang sejati yang seperti ini
Lalu kami anak siapa ?

Sungguh ironi….
Katanya hak kami dilindungi
Oleh Negeri tercinta ini
Realitanya kami korban gigit jari
Atas perlindungan setengah hati
Manis di awal buntu di tengah jalan, kenapa ini ?
Lalu kami anak siapa ?

Sungguh ironi….
Sampai kapan kan seperti ini ?
Kami putra putri penerus bangsa ini
Tanpa perlindungan yang sepenuh hati
Dari fajar hingga senja sampai fajar terbit lagi
Tak kunjung kami dapati cahaya itu sinari kami

Pena Ndeso
Sragen_30 Januari 2015














Sajak Danang Febriansyah

SPG GIORDANO
Di Solo Square

Yang berdiri sepanjang jam
Lelah musnah berbalut senyum
Abai orang picingkan mata
Hanya ramahnya yang menjawab
Meski terbungkus ketat itu siksa

Peduli apa dengan sebelah mata
tak mengemis
Apalagi menjual raga

Dalam rahimnya ada yang membesar
Demi itu derita dirasa

                                                                     Pajang, 23092014 21.02 WIB






























UPACARA MEWAH

Mereka datang dengan busungan dada
Memamerkan segala kemewahan mereka
Bahwa apa yang didapatnya karena usahanya saja

Mobil mewah mengantar mereka
Dan seakan mengatakan kepada kami
“Akulah yang akan memakan makananmu!”

Mereka berlomba menunjukkan apa yang dikenakannya
Menaikkan status dari tumpukan suara kami

Karpet merah buat mereka
Bergaya bak raja namun bergelar wakil
Dengan bangga mereka menepuk dada
“Itulah kantor kami.”

Kantor yang beberapa tahun ini
Bagi kami terlihat menjadi sarang besar kebusukan
Disana kebusukan demi kebusukan disuapkan kepada kami

Sarang kebusukan itu mereka sebut kantor
Disanalah banyak tikus bertopeng senyum manis
Mengekang kami
Disanalah topeng bopeng penuh dusta menyandera hak kami

Mereka lalu duduk untuk menggantikan tikus busuk yang lain
Yang pensiun atau yang  meringkuk dalam jeruji besi yang tak kalah mewah dengan hotel
Hebatnya atau memang karena tak pernah belajar tentang rasa malu
Mereka menyebut dirinya yang terhormat
Yang berjuang demi demokrasi atas nama kami
Yang tak dihormati oleh mereka

Lalu mereka berdiri
Dan meneriakkan sumpah janji untuk diingkari

Lihatlah senyum-senyum kesombongan mereka
Di atas upacara mewah itu
Lima tahun ke depan mereka telah bersenjata janji :
Penuh ingkar atau dibuktikan

Lalu kita lihat
Siapa yang menyusul masuk ke dalam jeruji besi
Seperti tikus pendahulunya

                                                                                           Pajang, 01102014            17.06 WIB


Sajak Khairun Nisa

Hanya untuk Kita

Kakiku tak beranjak mengambil langkah
Meskipun tak terdengar suara apapun dari sana
Aku tak perlu memaksakan diri
Dengan keratan tali yang memenuhi lantai ini
Pasti orang-orang juga akan mengerti
Pada hembusan angin yang begini kencang
Menghempas keras pada batu-batu di teras

Tulisan yang kupegang ini sungguh berarti
Hanya sayang, tak semuanya mengerti
Dengan rangkainya yang berbeda, mendaki
Juga puluhan bintang yang tersembunyi
Tak mudah untuk mendapatkan sandaran mata kaki

Hei angin, tak bisakah kau halau mereka kemari?
Kurang baguskah yang kubawa ini?
Padahal sudah susah payah aku bisa berdiri denganmu?
Apalagi tanah di sini tak lagi hitam menawan
Juga tanda-tanda ini seharusnya sangat jelas meski hanya dilihat sekali

Benar, memang terkadang tak perlu begitu jauh
Apabila sedekat ini pun bisa
Tak perlu lama, apabila sebentar pun bisa
Tapi tak semudah itu, tak semudah itu
Langkah kita semua harus beribu-ribu
Dan menit yang dihabiskan juga tak sekedar lima saja
Tapi ini membutuhkan semuanya
Membutuhkan semuanya
Untuk kita semua bahagia.

                                                                        30 Januari 2015
Sebuah Koin

Sore ini tidak jadi hujan
Ketika angka-angka di kepalaku mulai berhamburan
Mengingat-ingat tulisan
Memeluk tangan yang gemetaran
            Jaket hijau itu berkibaran
            Oleh tabrakan angin yang melintang pukang
            Mencoba berteriak pada gemerlap bintang
            Namun langit tak mengizinkan
Sungguh tidak bisa ditahan
Dalam kantong yang memuakkan
Kau genggam hati orang-orang
Begitukah selalu kau bertata krama?
Hanya untuk membuat hijau mata mereka semua?
Lalu dengan cepat kau ikat mereka dengan rantai penuh bisa?
Kasihan memang
Apalagi ketika sungai yang bergejolak begini
Mudah saja kau buat perahu mengikuti kehendakmu
Hingga ia oleng dan tenggelam di tengah lautan
Gemerincingmu pun merasuknan menusuk
Kau memang sering diharapkan
Silau warna yang kau punya membutakan mata
Masih bagus jika hanya mata biasa
Tapi mata yang buta adalah mata yang membuat kehidupan menjadi berwarna
Apalah artinya
Kau tidak hanya untuk belanja
Tapi kau renggut jasad orang-orang juga
            Ini akan menjadi yang terakhir
            Raja bilang segelas air lebih baik daripadamu
            Maka jangan mengganggu
            Kecuali pada orang yang mudah kena tipu.
.
                                                                                            30 Januari 2015
Sajak Dhiyas Fatin Nuha

Bayangan Pilu
Waktu terus berlalu
Hingga Ia enggan mengingat kenangan itu
Lebih baik membiarkan berlalu
Bila hanya membinarkan pilu
Lebih baik membiarkan tercover kisah lain
Bila hanya menderai batin
Buah hatinya telah pergi
Bukan untuk sementara namun untuk kepergian abadi
Asa...
Itulah yang masih tersisa dalam diri
Asa menatap masa depan penuh tekad tanpa henti
Meski kenyataan takkan bisa dipungkiri
Sebuah tragedi telah merenggut buah hati
Tragedi penuh luka
Seperti duri yang tak henti mencabik relung jiwa
Tak mudah melewatinya
Bayang-bayang pilu tragedi 98


Sukoharjo, 30 Januari 2015
Mengapa Terjadi

Stabilitas kondisi tak menentu
Bahkan kedamaian seperti bayangan semu
Yang kemudian hanya menyisakan sendu
Mengapa terjadi padamu?
Problem demi problema
Tak pernah lelah menyerang
Laksana badai yang siap menyisakan kehancuran
Mengapa terjadi padamu?
Ombak kepelikan
Tak pernah henti menerjang karang-karang harapan
Mengapa terjadi padamu?
Aku bertanya
Namun hanya harapan dalam bualan retorika yang kudapat
Mengapa terjadi padamu?
Mengapa terjadi padamu, Indonesia?
Semoga ada perubahan menuju kebaikan
Perubahan dengan tindakan bukan sekedar buaian
Dan semoga ada bait-bait doa penuh ketulusan
Walau seirama bait-bait resah yang terbelenggu problema


Sukoharjo, 30 Januari 2015


Sajak Bening Pertiwi

Tuhan Marah, dan Aku Menangis

Tuhan marah, dan aku menangis
“Jangan . . .
kumohon . . . ! ”
kumal, dekil
tengadah tangan kecil
di pojok kumuh

Tuhan marah, dan aku menangis
isaknya
menjadi
pada gelap menggantung
di balik bayang senja

Tuhan marah, dan aku menangis
”tidak,
kumohon . . . !”
ratapnya
sayup, pilu

Tuhan marah, dan aku menangis
hingga hilang
suara nafasnya
tinggal
seonggok tulang

Tuhan marah, dan aku menangis
”tidak ! ! !”
ia berkilah
lantang
”aku hanya utusan
tuk sempurnakan ayat-Nya”

dan esoknya,
tercetak besar-besar
”Gelandangan kecil, mati
atas noda-noda kekuasaan”

Sayang,
hanya
kertas kusam
di tong sampah

                                                                             Surakarta, Maret 2008



Surat Untuknya yang Tak Bersahabat lagi

Pelan, rintiknya basahi tanah gersang ini
Kerontang panjang lah lalu dan pergi
Gemerisik dedaunan perlahan warnai
Rekahkan hari, lah kembang mewangi
Rintiknya hapus rindu sang bumi

Nak, ini cerita lain kali
Bumi kini dan dulu tak sama lagi
Saat percik itu tak bersahabat lagi
Sisakan tangis dan luka hari ini
Sungguh, ini bukan salah bumi
Hanya manusia tak punya hati
Tak peduli pada dulu dan kini
Dan esok yang sisakan sepi

                                                                          Surakarta, Oktober 2014
































Sajak  Nuryanto

KEPADA ANAK JALANAN

Apakah bangsamu
sudah tak peduli lagi denganmu, Nak?
Kau berjalan di tengah kota
di tengah keramaian kau meminta-minta
hanya demi kau ingin bertahan hidup
dan berharap esok  masih bisa melihat dunia

Apakah orang-orang di sekitarmu
sudah tak menganggapmu lagi, Nak?
Saat sepi dan hanya sendiri
Seharusnya kau tak berada di sini
Tidur di pinggir jalan, atau di emperan toko, atau di tepi pohon,
atau di mana saja, dan tak pasti
Seharusnya kau kembali
ke rumah bersama keluarga yang kau cintai
Namun, tahukah kau siapa keluargamu?

Apakah bangsa ini
benar-benar sudah tak ada kewajiban untuk menjagamu, Nak?
Seharusnya kau memang tak di sini
Seharusnya belajar dengan buku-bukumu
Bersama teman-temanmu di sekolah
Menimba ilmu
Dan seharusnya kau tak di sini
Dan kau tak seharusnya
di sini sebagai anak jalanan
. Sukoharjo, 30 Januari 2015



















DUKA AIR ASIA

Seperti burung,
Kau terbang di atas awan
dan mereka bersamamu

Seperti burung,
Kau melayang bersama angin
dan mereka masih bersamamu

Semakin meninggi,
Seperti engkau menjauhi bumi
dan tak kulihat lagi

Semakin meninggi
Dan kau tak terlihat lagi

Lalu tiba-tiba apa yang terjadi?
Saat mereka menceritakanku lewat tangisnya
Saat mereka mengabarkanku lewat kematiannya

Rupanya kau tersesat?
Tenggelam di dasar laut
Menghilang
Menjemput mereka dalam maut

Sukoharjo, 30 Januari 2015






















Sajak Achmad Fanani Ulin Nuha

Sungguh

Tak yakin kau sanggup
Sekedar berjalan di terik mentari
Yang katanya rezeki penjual berdasi

Tak yakin kau sanggup
Sekedar bertahan dari turunnya air ke bumi
Yang katanya rezeki para petani

Sungguh,
Bukankah terlalu sadis
Kau selalu mencaci maki
Sedangkan kau berdiam diri

Sungguh,
Sebenarnya kau penyebab semua ini
Diam memilih tak peduli
Daripada berusaha memberi

Cukup

Sungguh,
Jangan terus salahkan petinggi
Ini tanggung jawab pribadi
Daripada terus mencaci maki
Memperkeruh gelapnya hari

Tak yakin kau bersyukur
Mengumpat atas panasnya mentari
Padahal rezeki penjual berdasi

Tak yakin kau bersyukur
Mencaci maki turunya air ke bumi
Padahal rezeki para petani

Solo, 29 Januari 2015











Jangan Khawatir

Jangan khawatir
Kau bebas memilih makanan yang kau suka
Tanpa harus bertanya kandungan berbahaya didalamnya

Jangan khawatir
Kau bebas berlari sejauh jalanan terbentang
Tanpa harus takut gesekan kartu yang mengeluarkan hutang

Jangan khawatir
Kau bebas memilih tempat tidur
Tanpa harus takut tergusur

Rumahmu adalah jalanan seluas ini
Tempat bermainmu jalanan yang terbentang
Tidurmu kau bebas memilih sesuka hatimu

Terkadang,
Kenyamananmu terusik, dikejar, ditangkap dirumahmu
Tidak kah mereka pikir itu hak siapa
Kalau itu dalih peduli seharusnya mereka menjagamu

Solo, 30 Januari 2015



























Sajak Vhee
Dan Sunyi

Ruang itu bernama empati
Entahlah..
Aku tak mengerti kenapa ruangan itu kini begitu sepi
Lelah ku bertanya
Iyakah? Benarkah? Itukah?
Tanda tanya hanya sebatas jadi tanya yang membesar
Akankah dunia telah memasuki masa rapuhnya?
Seperti itukah akhir dunia?
Orang memang menua, tapi...
Seperti itukah dunia?
Iyakah? Benarkah? Itukah?
Adalah sebuah realita yang memalukan dan memilukan
Lompatan detik waktu telah membawa ruangan itu semakin sunyi
Menyesakkan...

                                                                        Karanganyar, 30 Januari 2015
_Vhee_






























Jungkir Balik Negeriku

Lihatlah sang tikus hitam buntut panjang..
Sibuk keluar-masuk rumah manusia mencari mangsa
Lihat sang kera, yang dijarah bukan lagi makanan
Si kucing manis menjelma menjadi sosok anggun di atas panggung
Keluar-masuk salon lenggak-lenggok pamer kecantikan di perlombaan
Membuat tuannya keluar duit jutaan
Dunia fauna telah tertukar dengan dunia manusia
Manusia tinggal di kolong-kolong
Ritme hidup seperti kalong
Ada yang berbaju compang-camping bolong
Sementara si kucing dan anjing tulen berbaju mewah ungu terong
Ada sekelompok manusia yang rakusnya melebihi tikus
Saling rebut seperti sang kera memperlakukan jarahannya
Ada pula manusia yang senantiasa bersimpuh pada Tuhannya
Tapi tak bisa apa-apa
Ada banyak manusia yang membela kebenaran
Tapi tak bisa apa-apa
Ada kelompok manusia yang jujur apa adanya
Tapi tak bisa apa-apa
Jungkir balik negeriku
Di saat dunia fauna menyatu dengan dunia manusia

Karanganyar, 30 Januari 2015
_Vhee_












Sajak Yahya Adhi Putra
Sihir Kurcaci
Kubuka pintu kehidupanku setelah sekian lama
Kulihat pemandangan yang beragam warna
Namun kenapa warna hitam jadi dasarnya?
Itulah yang membuatku kecewa

Cerahnya lampu disetiap terowongan semut
Gerombolan cupang jantan yang tidak pernah berubah
Patuhnya juragan emas kepada petani belut
Serta diamnya cacing meski selalu di dalam tanah

Kurcaci-kurcaci ini kebingungan
Mereka ingin membuat keajaiban
Namun apa yang terjadi tidak sesuai harapan
Mereka malah mendapat tendangan

Akhirnya mereka hanya bisa menanti
Apa yang dihendaki tuhan pastilah yang terbaik
Namun tak selamanya mereka membatu diri
Melawan arus waktu yang tidak baik


Tuan Tanah

Kulihat sebuah jaring besar
Yang selalu mengikat di pohon yang besar
Sungguh mereka adalah pohon yang sabar
Walaupun kulit mereka selalu memudar

Buah yang jatuh tidak selalu jatuh
Namun terhalang oleh jaring terikat
Pegawai kebun selalu patuh
Meski buah sudah jatuh ke tanah

Segerombolan kerbau mengantar tuan tanah
Pergi ke kota untuk menjual sekarung buah
Namun keajaiban datang melingkar
Meski harga buah tersebut tidak masuk akal

Sungguh beruntungnya sang tuan tanah
Dapat menyantap daging esok harinya
namun sang tuan tanah kesakitan
karena daging tersebut belum dibersihkan





























Sajak Ibudh
sewindu lalu di solobaru
di dingin malam
di semak alang-alang
pelacur bisu sepuluh ribu

bibirku biru
cuma tiga bungkus nasi sayur lauk tahu?
siapa suruh
kenapa mau
di mana pemilik ruko-ruku tiga lantai itu?

ibudh
TamanPasinaon, Dzulqa'dah 1435
































tiga orang pemuda
lahap ayam goreng dengan canda tawa
dekat jendela
restoran mancanegara

tiga orang pemuda
bangga karna negerinya telah merdeka, katanya
buktinya bisa makan ayam goreng kapan saja, pikirnya

di wajah bumu yang berbeda

tiga orang pemuda
saling menyungging senyum ksatria
dalam lapar dahaga
bercak darah, luka menganga

tiga orang pemuda
tersenyum karna iman menuntun ke medan laga, ikhlashnya
tetap membaja walau hanya kerikil digenggamnya, yakinnya

....

di bangku restoran dekat jendela
ayam goreng dicabik-cabik oleh geligi tiga orang pemuda
meluncur kenyangi lambung-lambung mereka

di tanah berdebu berhias puing-puing kota
rentetan peluru tajam mencabik-cabik badan tiga orang pemuda
menembus membedah lambung-lambung mereka

....

tiga orang pemuda
di negeri yang telah merdeka, katanya
meski duduk dekat jendela
tak tahu
ayam goreng berarti peluru
atau
pura-pura tak tahu
karna hati yang beku


ibudh
Taman Pasinaon, 9 Muharram 1434, 20:51 WIB