Minggu, 17 Agustus 2014

KISAH INSPIRATIF



Ketika Cinta Pergi Meninggalkanmu

Oleh Agus Yulianto*

“Mak, kayu bakarnya sudah habis...! aku berteriak sekencang mungkin agar Emak mendengar suaraku.Maklum hanya teriakan yang dapat aku lakukan.
“Ada apa, tidak usah teriak-teriak,  malu kan sama tetangga,” ujar Emak sambisltergopoh-gopoh menghampiriku.
“Mak, kayu bakarnya sudah habis, gimana mau masak,” rungutku kesal.
Bagaimana tidak kesal, sudah capek-capek pulang dari kampus masih disuruh masak di dapur. Mana persediaan kayu bakar sudah habis.Meski sekarang jaman sudah canggih, tapi kami masih menggunakan kayu bakar.Meskipun sudah dapat bantuan kompor gas dari pemerintah tapi, Emak tetap bersikukuh untuk menggunakan pawon untuk memasak.Pernah suatu hari aku bertanya kepada Emak kenapa tidak memakai kompor Gas, tapi apa jawabnya, Sebaiknya kita sebagai orang desa harus tetap melestarikan alat tradisional agar tidak punah dan juga tidak di klaim oleh orang asingbegitulah kira-kira jawaban Emak.
Memang di kampung kami setidaknyalistriksudahadadansegalafasilitas yang berhubungandenganteknologisudahtersediatidakterkecuali di rumah.Tapi Emak tetap berusaha untuk tetap hemat. Listrik dirumah hanya terpasang 450 watt, tapi itu tidak seluruhnya kami pakai.Karena kami hanya punya beberapa lampu yang sedikit saja digunakan, itu pun lampu neon 10 watt sebanyak 3 buah. Dan yang lain 2 buahdopkecil 5 watt ituhanyauntukpeneranganbagiantertentu. Kami pun juga punya TV 14 inci, kipas angin dan Tape Recorder tapi, itu semua jarang kami hidupkan. Alasannya sepele, kami tidak mungkin mampu membayar pajak listrik. Selain itu Emak juga takut kalau selama ini bayar listrik uangnya tidak pernah sampai kepemerintah, karena makanan sehari-hari Emak berita tentang kasus korupsi. Hampir setiap media baik elektronik maupun cetak menyajikan menu berita kasus korupsi. Itulah yang membuat Emak takut. Maklum kami dari keluarga ekonomi menengah.

***


Dulu sewaktu Ayah masih ada dan masih sehat, ayahlah yang menjadi tulang punggung keuangan keluarga kami. Ayah bekerja sebagai karyawan pabrik textile milik Pengusaha Tionghoa. Walau hanya dengan gaji pas-pasan tapi itu bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari kami dan juga biaya kuliahku termasuk pajak listrik.
Ayah sudah meninggal 3 tahun yang lalu ketika aku masuk awal sekolah SMA. Mau tidak mau Emaklah yang harus menggantikan posisi Ayah. Setiap pagi mulai dari pukul 05.00 Wib Emak harus segera pergi ke pasar menjual kayu bakar. Emak benar-benar banting tulang untuk membiayai kehidupan kami. Dengan empat orang anak  dan semuanya masih sekolah, kami harus tahu diri dan harus saling bahu membahu meringankan bebanEmak. Dengan penghasilan hanya tiga ratus ribu perbulan itu kami hemat sedemikianrupa.
“Meski kehidupan kita seperti ini,  Emak tidak akan pernah berhenti untuk menyekolahkan kalian hingga keperguruan tinggi. Namun ingat pesan Ayah kalian, jangan pernah malu dengan apa yang dimiliki orang tua kalian saat ini,                             ” sesaat Emak menghela nafas dan meneteskan air matas ebelum melanjutkan kata-katanya.”
Karena atas ijin Allah swt jualah apa yang dimiliki oleh Emak suatu saat akan menjadikan kalian orang-orang yang bermanfaat untuk orang lain,” lanjut Emak, menjadikan kata-katanya memberikan suatu pertanda bahwa suatu saat nanti Emak akan meninggalkan kami semua. Hatiku pun tersentak dan air mata ini tak berhenti menetes.Aku dan ketiga adik kumemeluk erat Emak. Begitu hangat pelukannya seakan mengingatkanku ketika masa kecil dulu.
Mendengar perkataan Emak, aku mulai gelisah. Mungkinkah ini cobaan bagi kami saat ini, lalu apa yang harus kulakukan sekarang jika semua sudahberubah.Keadaan perekonomian keluargaku yang semakin menurun. Aku masih kuliah dan ketiga adikku masih sekolah semua.  Kami membutuhkan biaya yang tidak sedikit meskipun sudah ada bantuan dari pemerintah BOS (BantuanOperasionalSekolah) tapi itu belum bisa menutupi biaya sekolah adik-adikku. Pikiranku sangat kalut.
***
Malam ini kami semua berkumpul duduk di serambi depan rumah. Ditemani terangnya sinar bulan dan gemerlapnya bintang. Canda tawa menghiasi suasana malam yang sunyiini, walau hanya di temani dengan segelas air teh hangat dan singkong goreng itu semua tidak menghilangkan kehangatan keluarga kecil kami. Di kesempatan ini aku ingin mengutarakan sesuatu pada Emak yang sebenarnya sulit bagiku untuk ku katakan.
”Mak, bulan depan Aku harus bayar SPP” dengan nada terbata-bataku sampaikan hal itu pada Emak. Mendengar keluhanku tadi hanya suara kosong yang ku dapatkan dari Emak. Nuansa malam ini seketika menjadi hening.
“Berapa…” jawab Emak dengan nada singkat. Sulit bagiku untuk aku katakan padanya. Bagaimana pun juga aku harus mengatakannya.
”Dua juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah Mak,” tak ada suara sekata pun dari bibir Emak. Semua diam termasuk aku dan adik-adikku. Dari lubuk hatiku hanya doa yang bias aku panjatkan padaNya.
“Baik nak, besok akan Emak carikan uangnya. Yang penting kamu rajin belajar biar bisa meraih impianmu” itu jawaban yang aku dapatkan dari Emak. Aku tak tahu uang itu akan di dapatkan darimana.
***
            Waktu fajar telah tiba, mata yang aku pejamkan perlahan-lahan terbuka. Kulihat kearah jam dinding dikamarku yang menunjukan pukul 04.30, aku terbangun bergegas untuk mengambil air wudhu menunaikan sholat shubuh. Kami  sekeluarga sudah terbiasa sholat berjamaah di masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.Usai sholat shubuh kami melakukan aktivitas masing-masing. Adik-adikku ada yang mengaji dan ada juga yang melanjutkan tidurnya. Aku sendiri mempersiapkan perlengkapan untuk pergi kekampus. Organisasi Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang aku ikuti mengadakan kegiatan bakti sosial di daerah Sambi, Boyolali. Sedangkan Emak sehabis sholat shubuh,  memasak di dapur dan menyiapkan sarapan untuk kami semua. Aku pun juga tidak lupa ikut membantu memasak di dapur, meskipun aku seorang laki-laki, itu buatku bukan hal yang tabu.
            “ Fajar…Emak mau pergi kepasar dulu. Tolong sarapan buat adik-adikmu di siapkanya?”
            Tanya ku heran karena tidak seperti biasanya Emak hari Jumat pergi kepasar, biasanya kalau kepasar setiap hari minggu itu pun kalau ada uang.
           “Kepasar mau belanja..” rasa penasaranku pada Emak karna hari ini tidak biasa untuk belanja.
            Dengan senyum  khasnya yang mengambang dari raut wajahnya, berarti sinyal itu menandakan. Ah tidak mungkin. Lalu mau apa kepasar? Tanyaku dalam hati. Emak pun langsung pergi dengan membawa beberapa kayu bakar. Pikirku pasti Emak akan menjual kayu bakar itu. Mudahkanlah langkahnya ya Allah. Aku selalu mendoakanmu Emak.
***
            Matahari terlihat mulai menampakkan wujudnya dan menyebabkan warna oranye yang cerah dan udara yang sejuk menyelimuti Kota Kartasura di pagihari. Pagi ini begitu cerah setelah hujan tadi malam yang begitu lebat. Aku berjalan menuju kampus IAIN Surakarta untuk memulai aktivitasku sebagai mahasiswa semester 7.  Sepeda motor dan angkuta umum berlalu lalang di sepanjang jalan pasar Kartasura. Selama ini aku tempuh kuliah dengan jalan kaki  selain untuk belajar hemat dan karena jarak antara rumah dengan kampus tidak begitu jauh. Aku perhatikan disekitar orang-orang disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Mulai dari pedagang yang masih sibuk dengan tawar-menawar dengan para pembelinya. Ada juga tukang parker yang sibuk mengatur kendaraan.
Seketika aku melihat orang-orang yang berada di pinggir jalan berkerumun. Mereka ada yang berucap kasihan ibu itu mati gara-gara tabrak lari. Aku pun penasaran segera mungkin untuk melihatnya. Beberapa menit kemudian polisi dan ambulans datang. Aku berada dikerumunan orang-orang pasar. Mayat ibu itu ditutupi daun pisang begitu sulit aku untuk melihatnya. Dilihat dari pakaian yang dikenakan seperti  Emak. Aku semakin penasaran dengan mayat itu. Jantungku berdebar kencang pikiranku melayang tak tentu arah. Apakah ini  Emak, gumanku dalam hati.
Akhirnya, polisi membuka daun pisang itu dan ternyata aku hanya bias terbungkam tak bias berkataapa-apa. Aku ingin menjerit sekeras-kerasnya. Emak jadi korban tabrak lari. Aku melihat dompet berwarna hitam masih berada di genggamanya, Aku perhatikan ada beberapa ratus ribu uang hasil dari menjual kayu bakar. Dunia seakan runtuh aku lemas dan terlelap diantara kerumunan orang pasar. Sesak sekali dadaku. Aku tak percaya emak telah tiada. Aku berteriak, menangis, berharap tidak secepat itu Emak meninggalkanku. Emak gara-gara aku kini, kau telah pergi untuk selamanya. Emak maafkan anakmu. Teringat sesaat pesan singkatmu malam itu
 “Jangan pernah malu dengan apa yang dimiliki oleh orang tua kalian.” Meskipun engkau hanya penjual kayu bakar tapi karna inilah aku bisa kuliah. Emak ku kecup keningmu untuk terakhir kalinya. Selamat jalan Emak. Berat hati ini untuk melepaskan orang yang aku cintai.
Air mataku menetes...
-------------------------II--------------------

*Bergiat di komunitas Sastra Pakagula Sastra Karanganyar.

Review IRC



Judul Buku          : Gelombang Ketiga Indonesia
Penulis                 : Anis Matta
Halm                    : 116
Penerbit               : Tfi The Future Institute

Review
Buku Gelombang Ketiga Indonesia merupakan kumpulan catatan dan renungan seorang Anis Matta yang tulisan-tulisannya terserak di berbagai tempat. Sebagai sekjen partai selama 15 tahun, Anis larut dalam kesibukan mengurusi dapur partai. Yang menjadi fokus utama seorang Anis Matta adalah membangun kapasitas organisasi sebagai partai politik modern. Dalam masa itu Anis menghindari jabatan publik yang bisa mengalihkan fokus ini. Walaupun dia telah menjadi anggota DPR RI sejak 2004, namun fokus ini tetap menjadi perhatian seorang Anis Matta dalam kerja internal partai.
Di tahun yang penuh cobaan bagi partai yang di tungganginya, seorang Anis Matta selain sebagai seorang politisi juga dikenal sebagai penulis dapat mengompilasi catatan perenunganya selama menjadi satu jahitan gagasan yang relatif utuh dan siap didiskusikan secara terbuka di hadapan para pembaca .
Buku ini menggambarkan bagaimana seorang Anis Matta membaca sejarah. Meskipun, dia tidak berpretensi menulis sejarah Indonesia. Hanya menawarkan pembacaan tentang dari mana kita berjalan, sekarang ada dimana, dan mau kemana kita berjalan setelah dari tempat kita berpijak saat ini. Buku ini menjadi awal dari sebuah trilogi yang membahas perjalanan Indonesia sebagai bangsa. Buku ini membahas visi dan cara membaca realitas keindonesiaan hari ini. Pada buku ini Anis menawarkan cara melakukan periodesasi sejarah Indonesia kedalam tiga gelombang. Hari ini Indonesia memasuki gelombang ketiga dengan faktor pembentuk nilai, lingkungan yang mempengaruhi serta karakter masyarakat yang berbeda dari gelombang-gelombang sejarah sebelumnya.
Buku ini selanjutnya akan membahas agenda yang harus dijalankan dalam mencapai tujuan kesejahteraan Indonesia dalam lanskap sosial-politik di gelombang ketiga tersebut. Masyarakat yang makin berdaya dan cerdas, seiring dengan makin menisbinya hirarki dan otoritas negara, merupakan tantangan yang harus dijawab oleh negara dan lembaga politik lainnya. Yang paling penting, bagaimana kita harus memurumuskan agenda agar Indonesia yang sekarang berukuran menengah di bidang sosial, ekonomi dan pengaruh politik Internasional ini dapat melakukan lompatan menjadi negara yang lebih maju, makmur dan ikut menentukan percaturan dunia.
Setelah kita menyepakati agenda transformasi Indonesia ke depan, kita perlu mendiskusikan strategi dan pendekatan manajemen dalam mewujudkan agenda tersebut. Tujuan kita berbangsa tetap sama, tetapi cara mewujudkannya menjadi jauh berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Pendekatan dan strategi ini yang akan dituangkan dalam buku ketiga Anis Matta sekaligus sebagai pamungkas dari Trilogi Indonesia.