Senin, 30 Desember 2013

Catatan Hatiku

Surat Untuk (calon) Istriku
Kepadamu,
Yang masih disembunyikan Allah keberadaannya, yang masih terjaga sebagai rahasiaNya, semoga engkau selalu dalam lindunganNya, dalam segala kebaikan, dalam sebaik-baik kebajikan.
Kenalkan, aku adalah calon suamimu. Tentang siapa aku, akan sedikit aku ceritakan.
Tak banyak yang bisa kau banggakan daripadaku. Seorang yang masih terus belajar dan belajar menjadi yang terbaik bagimu. Yang berusaha untuk menjadi baik meski godaan selalu datang menghampiriku. Yang mencoba menjaga diriku seutuhnya untukmu.
Tak ada yang bisa kau banggakan daripadaku. Aku hanyalah seorang calon guru atau entah esok diletakkan dimana rejekiku, aku ikuti aturannya Allah, aku manut saja. aku ingin menghabiskan sisa-sisa waktuku denganmu, semampuku.
Tak ada yang bisa kau banggakan daripadaku. Kaya? Tentu tidak, aku berasal dari keluarga sederhana, ayahku seorang buruh, ibuku seorang ibu rumah tangga biasa. Mereka tak memiliki ijazah tinggi sepertimu, tapi mereka selalu berusaha yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya hingga aku bertemu dengannya yang mungkin adalah hasil dari perjuangan mereka menyekolahkanku setinggi ini? Kami sederhana, kami merasa cukup. Yang menjadi kunci bukanlah seberapa banyak materi, tapi seringnya kami bercerita bersama di depan televisi, saling terbuka satu sama lain, dan saling merindu ketika tak ada perjumpaan satu sama lain.
Tak ada yang bisa kau banggakan daripadaku. Kamu berharap aku dari keturunan yang baik-baik? Aku mengaminkan. Meski tak sebaik keluargamu, tapi aku menganggap keluargaku adalah keluarga terbaik yang pernah ku miliki. Entah ketika bersamamu, tapi aku berharap kita bisa mewujudkan generasi-generasi terbaik dari keturunan yang baik. Meski orangtuaku tak berpendidikan tinggi, tapi mereka ingin anaknya sekolah tinggi. Dan benar, segala daya dan upaya mereka, dengan ketulusan doa mereka kepada Sang Pencipta, harapan itu berwujud kenyataan, berwujud kesuksesan pada empat bersaudara yang mereka lahirkan.
Tak ada yang bisa kau banggakan daripadaku. Mungkin saja kamu mencari yang yang sederajat denganmu, dan tentu tak kau jumpai padaku. Bisa jadi kamu salah alamat. Tapi yakinlah, aku akan menjaga diriku untukmu, dengan hijab sebaik yang aku bisa. Aku akan mempersering wudhu agar wajahku selalu tampak cerah ketika di hadapmu. Aku akan tersenyum setulus hatiku. Seikhlas yang aku bisa, untukmu, iya, untukmu.
Tak ada yang bisa kau banggakan daripadaku. Tapi sayang, lagi-lagi aku tidak bisa janji banyak kepadamu. Bagaimana kalau jam tidurku lebih banyak dari jam tidurmu? Bagaimana kalau aku menjadi sibuk di luaran sana sedang anakmu aku tinggal bersamamu? Tak ada yang bisa kau banggakan daripadaku. Pertimbangan wanita memilih bisa jadi dari agamaku. Ketika jodoh adalah cerminan dari diriku, berarti aku harus membaikkan diriku, terus membaikkan diriku, karena aku sadar, sekarang aku masih belum baik. Aku mencintai Allah dengan sekadarku. Aku masih sering menunda-nunda sholatku, lalai dalam mengaji, malas menghadiri kajian, dan ogah-ogahan untuk menambah hafalanku .
Tak ada yang bisa kau banggakan daripadaku.
Tapi, aku akan berusaha menjadi yang terbaik bagimu. Yang mendengar ceritamu hari demi hari, yang memberikan pundaknya untukmu bersandar ketika lelah menyerang. Yang berada di belakangmu ketika kamu membutuhkan dorongan, dan yang merindumu ketika engkau sedang jauh.

Aku, aku yang akan mengajakmu atau lebih tepatnya memaksamu untuk pergi jalan-jalan karena aku tau kamu sedang penat. Aku yang akan menuliskan huruf demi huruf yang membuatmu tersenyum karena aku pandai berkata-kata untukmu. Namun ketika aku lelah, boleh ya, aku memintamu untuk memainkan melodi sekadar menenangkan hati yang terkadang pemiliknya pun tak mengerti?

Catatan Hatiku

Sebuah Perenungan  Akhir Tahun 2013 menuju Tahun 2014

Tahun 2013 merupakan sebuah perjalananku dalam menjelahi kehidupan yang penuh dengan ragam dan warna. Ketika aku ingin memukul mundur waktu untuk melihat kembali kisah perjalanan kehidupanku yang penuh intriks dan warna. Memoriku seketika terbang menuju masa lalu, mencoba menggali kembali suasana dan detail yang terjadi pada kisah yang kutuliskan setiap hari. Menggelitik, karena kurasakan beberapa emosi yang mengalir melalui tulisan tulisan itu. Perca-perca kisah yang menyusun pribadiku masa lalu dan mungkin masa kini.. artefak artefak yang meninggalkan fosil fosil kehidupan bahkan yang masih bisa kusaksikan hingga saat ini. Siapa pernah menebak bahwa tanda tangan yang kugunakan hingga saat ini memiliki sejarah yang kuukir pada tahun 2013 tersebut.
Di akhir tahun ini saya ingin mencatat berbagai hikmah kehidupan dan memetik pelajaran darinya serta memungut hikmah yang berserakan. Sebagai pembelajar dari kehidupan melalui universitas Alam Semesta Fakultas Kehidupan saya senang sekali mengamati dan mencermati hal-hal kecil dalam kehidupan, baik yang berada di lingkungan maupun sekitar kehidupan yang saya tahu. Sungguh beruntung orang yang mau belajar dari itu semua.
Kurasakan apa yang menjadi kisahku masa lalu adalah hikmah yang masih bisa kuambil hingga saat ini. Keinginan-keinginan yang telah terkubur waktu atau karakter yang telah berubah menjadi semakin baik atau sebaliknya. Namun perlu juga proporsionalitas agar diriku kini tak hanya berorientasi masa lalu melainkan juga sosok yang berorientasi masa depan, yang mampu menyeimbangkan antara kisah masa lalu dengan harapan masa depan yang terintegrasi menjadi sosok visioner yang matang dan bijak… memenuhi setiap poin muwashafat kader dasar dengan ikhtiyar terbaik.
Sejak masuk kuliah mungkin aku tidak pernah menulis diary secara khusus.. dan baru tahun 2010 aku pun menggunakan fasilitas blog yang kurasakan tak hanya bisa berbagi untuk diri sendiri tapi mungkin juga bermanfaat untuk orang lain.. dan aku pun ingat bahwa masih banyak diary lain yang pernah kutulis yang entah kini tersimpan di mana.
            Tahun 2013 memang sebuah fase dimana diriku memukul sebuah gong kehidupan untuk menentukan sebuah pilihan. Pertama masuk kuliah tahun 2009 hingga tahun 2012 merupakan sebuah fase dimana hidup dalam sebuah pilihan. Ketika kehidupan mengajakku untuk memilih sebuah masa depan. Aku pun terus mencari dan mencari kendaraan kehidupanku yang sesuai tentunya dengan diriku. Dan ditahun 2013 aku memang dihadapkan pada sebuah pilihan yang sudah mulai mengerucut. Setiap waktu aku analisis kegiatan dalam keseharianku akhirnya aku tahu bahwa diriku memang diciptakan untuk menjadi sosok intelektual muslim yang integral. Beragam aktivitas yang tak terbayangkan sebelumnya mengantarkanku pada sebuah misi perubahan kehidupan.
            Semangat muda kembali muncul dalam kehidupanku.  Sebuah proses dimana diri ini dibenturkan pada suatu persoalan menjadikan diri ini lebih untuk menatap masa depan. Ketika di tahun 2013 begitu banyak pemikiran yang datang dalam kehidupanku. Bahkan jiwaku sempat bertanya pada diri ini
 “ Wahai pemuda kontribusi apa yang akan kau berikan untuk Bangsa mu ini?”
“ Wahai Pemuda selama kau menempuh pendidikan S1 ilmu apa yang kau dapatkan?”
“Wahai pemuda sudah siapkah dirimu mengabdi untuk bangsamu?”
Dan begitu banyak seabrek pertanyaan yang bertubi-tubi menghujani diriku. Sampai saat ini aku belum bias menjawabnya. Masih aku simpan dalam sketsa kehidupanku. Tahun 2014 merupakan tahun berkiprahnya peran pemuda di panggung dunia. Tentunya jawaban dari pertanyaan itu akan aku jawab dan teraplikasikan dalam pengabdianku sebagai seorang muslim intelektual di tahun 2014. Melalui panggung seperti apakah aku hanya bias menunggu tentunya. Allah swt kini telah membuatkan sketsa kehidupanku yang baru di tahun 2014.

Tahun 2014 tahun dimana pemuda pemudi Indonesia berkiprah di panggung nasional.
 Ber-kontribusi untuk bangsa. Profesional dalam bekerja. Kompeten dalam berkarya.

Selasa, 03 Desember 2013

SAJAK




Dibawah Lorong Jembatan

Dibawah lorong jembatan
Daku bertemu dengan seorang kawan
Kawan yang dulu ku kenal dermawan
Kawan yang dulu penuh kebajikan

Dibawah lorong jembatan
Ada semburat senja kesedihan
Dari wajah yang rupawan
Dari seorang yang penuh belas kasihan

Kawan…
Ya kawan…!
Yang sangat dermawan
Kini tinggal di lorong jembatan

Hanya dilorong jembatan
Tempat bernaung mencari kehidupan
Tempat dimana seorang kawan
Yang tersandung akibat penipuan

                                    Jakarta, 17 Desember 2008
Dimuat di Solopos edisi 1 Desember 2013


Orang-orang Melarat

Kini banyak orang melarat
Berkumpul di depan rumah Pak Camat
Mereka mengadu cepat
Supaya mereka dapat
Siapa yang kalah cepat
Dan siapa yang terlalu lambat
Mereka tak akan tercatat
Di Buku harian Pak Camat

“Pak Camat…?”
Seru geromboln orang melarat
“Lihatlah tubuh kami yang cacat,
Yang tak bisa berjalan cepat,
Untuk mendapatkan paket hemat,
Dari Pemerintah Pusat.”

                        Bogor, 28 Desember 2008.
Dimuat di SOLOPOS edisi 1 desember 2013