Kamis, 10 November 2011

Artikel


Pendidikan Gerakan Literasi Lokal
Oleh : Agus Yulianto

Perpustakaan umum memainkan peranan unik di dalam masyarakat.Sebagai suatu institusi netral, perpustakaan menyediakan informasi dimana setiap warga masyarakat dapat mengetahuinya tanpa paksaan tentang berbagai isu mutakhir yang menjadi perhatian mereka. Melaui perpustakaan di harapkan warga masyarakat dapat memberdayakan diri mereka sendiri dengan memperoleh berbagai informasi yang sesuai dengan kebutuhan profesi dan bidang tugas masing-masing; yang pada akhirnya bermuara pada tumbuhnya warga masyarakat yang terinformasi dengan baik, berkualitas dan demokrasi.UNESCO dalam Public Library Manifesto-nya tahun 1994 mengemukakan bahwa Perpustakaan umum merupakan gerbang pengetahuan lokal yang menyediakan suatu kondisi dasar untuk belajar sepanjang hayat, pengambilan keputusan independen dan pengembangan budaya dalam suatu individu atau kelompok masyarakat.
Lalu bagaimanakah dengan  negara Indonesia apakah peran perpustakaan seperti itu telah berjalan? Secara umum , bahwa perpustakaan di Indonesia bisa dikatakan belum bisa berkembang dengan baik. Hal ini dikarenakan masyarakat hanya memfungsikan perpustakaan bukan sebagai kebutuhan pokok.Rata-rata mereka berkunjung di perpustakaan karna hanya ada tugas atau sekedar mampir untuk melepas lelah.Selain itu, Masyarakat di Indonesia belum memiliki budaya baca yang tinggi. Hal ini dikarenakan (1) membaca merupakan suatu hal yang dapat menyia-nyiakan waktu, karna orang indonesia mempunyai filosofi waku adalah uang. Artinya bekerja lebih utama daripada membaca buku.Padahal membaca merupakan persyaratan yang sangat penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negara apabila kita ingin menjadi bangsa yang maju. (2) Pendidikan kita merupakan pendidikan yang instan. Maksudnya pendidikan di era sekarang lebih mengedepankan teknologi informasi.Artinya untuk mendapatkan suatu informasi cukup dengan membrowsing internet segala sesuatunya mudah di dapat dan tinggal copy paste.Dan kurikulum pendidikan kita juga begitu kurang mendukung dalam budaya baca.Kalau kita ketahui sesungguhnya melalui membaca mutu pendidikan kita bisa ditingkatkan sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (3) Jumlah pembatasan peminjaman buku di perpustakaan.  Hal ini sudah sangat jelas sekali bahwa perpustakaan sekarang ini membatasi para pengunjungnya untuk meminjam buku.Ini tentunya sangat merugikan sekali khususnya bagi para predator buku.Mereka ingin mendapatkan pengetahuan lebih banyak lagi tapi harus di batasi.Meskipun di dalam perpustakaan tersebut terdapat keberadaan sebuah komunitas membaca tapi tetap saja pembatasan peminjaman buku tetap berlaku maksimal dua buku.
Dengan kata lain, perpustakaan umum yang ada di Indonesia belum bisa menarik perhatian warga masyarakat untuk mengunjunginya. Keadaan ini diperkirakan oleh lemahnya paradigma perpustakaan umum, dimana para pengelola perpustakaan tidak membuat dokumen perencanaan yang bersifat strategis dan tidak berupaya secara maksimal untuk mengangkat berbagai isu strategis yang berkaitan dengan pelayanan perpustakaan umum ke permukaan sehingga menjadi perhatian publik dan para pengambil keputusan di tingkat lembaga induknya.
Peran Gerakan Literasi sebagai pusat informasi
Fungsi utama dari perpustakaan umum sebagaimana yang kita ketahui yaitu untuk membantu orang, terutama anak-anak dan remaja,agar menjadi melekakan sebuah informasi. Peran perpustakaan umum juga sebagai pendemokratisasian dalam penyebaran informasi.Abad informasi sekarang telah memperlebar jurang antara orang-orang yang kaya dan miskin informasi, pada saat informasi menjadi komoditas yang harus dibeli.Apabila hal ini terjadi di lingkungan tertentu, maka perpustakaan umum diharapkan tetap dapat menawarkan akses gratis atau murah terhadap berbagai sumber informasi.Apalagi perpustakaan kini telah mengalami pergeseran makna.Dari yang tadinya hanya merupakan suatu tempat penyimpanan kini menjadi salah satu daya tarik dengan munculnya media interaktif perpustakaan digital (digital library).Hal ini sesuai dengan perubahan dan perkembangan masyarakat yang beranjak meninggalkan era industri dan menuju next generation society.Yang artinya Bahwa masyarakat informasi menjadikan informasi sebagai salah satu komoditas utama dalam kehidupan sehari-hari.Sedangkan maksud dari masyarakat informasi adalah suatu bentuk masyarakat dimana penciptaan, penyebarluasan, dan manipulasi informasi merupakan sebuah kegiatan ekonomi dan kultural yang signifikan. (en.wikipedia.org/wiki/information_society)
Pada tatanan masyarakat tersebut, perpustakaan akan menjadi salah satu institusi yang akan dijadikan basis dalam penyediaan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat, selain research university. Maka dari itu, perpustakaan akan memiliki peran yang sangat besar bagi kemajuan masyarakat tersebut. Karena keterkaitannya yang sangat erat dengan keberadaan masyarakat disekitarnya maka masyarakat pun di tuntut bertanggung jawab untuk senantiasa memelihara dan menjaga perpustakaan agar mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.
Ketertinggalan suatu masyarakat terutama disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu : ketidaktahuan, kemiskinan, dan penyakit (ignorance, proverty, and disease). Ketiga faktor berkaitan erat satu sama lain, dan dalam usaha untuk menanggulanginya biasanya di utamakan berbagai usaha yang di khususkan pada teratasinya faktor ignoransi, seperti program pemberantasan buta huruf, disusul dengan penyelengaraan sekolah-sekolah dan kursus-kursus.  
Perpustakaan merupakan salah satu di antara sarana dan sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui aneka macam bentuk koleksi perpustakaan.Berbeda dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat di akses oleh peminatnya masing-masing. Tersedianya beraneka bahan pustaka memungkinkan tiap individu memilih apa yang sesuai denga minat dan kepentingannya, jika warga masyarakat itu masing-masing menambah pengetahuannya melalui pustaka pilihannya, maka akhirnya akan terjadi pemerataan dan peningkatan taraf  kecerdasan masyarakat itu.
Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi, perpustakaan juga bisa berfungsi lebih dari sekedar tempat simpan pinjam bahan pustaka ditambah ruang baca belaka. Perpustakaan modern seharusnya bisa berfungsi bagi penyelenggaraan berbagai forum penerangan dan pembahasan tentang masalah-masalah aktual, antara lain melalui penyelenggaraan diskusi panel, seminar, simposium, lokakarya, dsb.
Dalam proses perkembangannya, anggota warga masyarakat akan membutuhkan keberadaan perpustakaan, selanjutnya, dengan bertemunya individu-individu yang memiliki kesamaan pandangan terhadap ketersediaan perpustakaan, maka akan terbentuk suatu komunitas. Sampai pada tahapan ini kiranya sudah cukup baik untuk memulai suatu gerakan untuk membangun kecerdasan masyarakat.Gerakan seperti ini biasa disebut dengan gerakan literasi lokal.
Gerakan literasi lokal adalah suatu gerakan untuk memberdayakan masyarakat dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi individu (sebagai bagian dari masyarakat ) untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan literasi.
Dengan terbentuknya komunitas-komunitas seperti komunitas membaca, komunitas puisi, komunitas baca-tulis, dll, maka kegiatan dari komunitas –komunitas tersebut tidak bisa terlepas dari peran perpustakaan sebagai penyedia koleksi bahan pustaka. Perpustakaan akan memiliki daya guna dan terbantu dengan hadirnya komunitas-komunitas tersebut.
Hal ini merupakan timbal balik dari adanya suatu continuity planning untuk pemerataan kesempatan dalam pemberantasan buta huruf dan peningkatan kecerdasan masyarakat.
Masyarakat yang sudah terbantu dengan hadirnya perpustakaan kemudian membangun kembali suatu komunitas literer untuk memfasilitasi dan menjembatani kebutuhan masyarakat dengan kehadiran perpustakaan.
Dengan demikian ada suatu akibat timbal balik yang dihasilkan dari continuity planning dengan mendirikan suatu perpustakaan yang berbasiskan komunitas.Jadi, hadirnya masyarakat informasi yang diimbangi dengan perpustakaan sebagai salah satu institusinya menghasilkan suatu tatanan baru di dalam masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara keberadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum yang berhak dinikmati seluruh anggota masyarakat.
Komunitas-komunitas ini sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan memiliki responbility untuk mengabdikan diri bagi pemenuhan kebutuhan pendidikan dan peningkatan kecerdasan masyarakat yang tidak bisa diperoleh secara formal di sekolah/universitas. Dengan kata lain, gerakan literasi lokal ini berupa suatu pendidikan non formal yang bisa diikuti oleh siapa saja tanpa batasan.